Opinion

Pelajaran dari Sebuah Drama

Hi! Welcome back di blognya Renita. Kebanyakan orang yang nggak suka nonton film atau drama korea akan ketawa saat tahu bahwa saya lumayan sering nonton tayangan dari negeri ginseng itu. Why? As I know, mereka berpikir bahwa Korean people ini pada lebay, sifatnya kekanak – kanakan. Udah 30 tahun tapi ada aja yang tingkahnya kayak anak 18 tahun. Kalo dipikir – pikir sebagian emang iya. Tapi bukan itu poin saya sekarang. Ada yang pernah nonton drama Signal? Yang pernah, you choose the right choice. Oke saya jabarin bentar ya sinopsisnya. Semoga nggak spoiler. Jadi drama Signal ini bercerita tentang dua detektif yang dihubungkan melalui walkie talkie. Namanya Lee Jae Han sama Park Hae Young. Nah detektif Lee Jae Han ini adalah detektif dari tahun 1989 sedangkan Park Hae Young adalah detektif dari tahun 2015. Trus gimana tuh mereka berhubungan lewat walkie talkie? Ini rada nggak masuk akal sih, mana bisa orang dari tahun 1989 komunikasi sama orang dari tahun 2015, pake walkie talkie lagi. Tapi melihat pesan moralnya, ini drama lumayan worth it untuk kalian tonton. Kedua detektif ini kerjasama untuk menyelesaikan beberapa kasus dingin. Kasus dingin yang dimaksud di sini adalah kasus yang dulunya belum terselesaikan. Jadi ada beberapa kasus yang ditangani oleh detektif Lee Jae Han di masanya yang belum ketahuan siapa si pembunuh asli. Karena mereka bisa komunikasi ini jadilah mereka bisa bertukar informasi untuk menyelesaikan kasus tersebut. Kasus – kasus itu antara lain adalah kasus pembunuhan berantai Gyeonggi Nambu (1989), kasus perampokan (1995), kasus pembunuhan berantai Hongwon-dong (1997) dan kasus pemerkosaan anak SMA di Injoo (1999). Komunikasi lintas waktu ini bisa mengubah masa lalu dan masa depan. Apa yang seharusnya terjadi di masa lalu bisa aja berubah setelah transmisi dan sebagai gantinya masa depan juga akan berubah.

Nah salah satu kasus yang mau saya bahas lebih rinci disini adalah tentang kasus pemerkosaan anak SMA di Injoo. Jadi detektif Park Hae Young ada hubungannya dengan kasus ini karena kakaknya yang terlibat jadi tersangka. Namanya Park Sun Woo. Awal ceritanya adalah ada kasus pemerkosaan di SMA Injoo. Pelaku pemerkosaan yang sebenarnya bukan si Park Sun Woo tapi anak dari seorang pemilik perusahaan besar di Injoo. Ya, semua karena uang. Jadi ayah dari pelaku yang sebenarnya itu menyogok polisi dan membuat semua saksi sama korbannya menyampaikan kesaksian palsu. Dengan begitu pasti harus ada satu orang yang jadi kambing hitam. Karena kakak Park Hae Young ini (Park Sun Woo) merupakan teman dekat dari si korban, tiba – tiba ia dituduh menjadi pelaku pemerkosaan tersebut dan dimasukkan ke sel tahanan. Ayah Park Hae Young jelas sangat marah ketika mengetahui salah satu anaknya terlibat kasus pemerkosaan. Hal tersebut lantas menyebabkan ayah dan ibu mereka bercerai. Park Hae Young ikut bersama ayahnya pindah ke Seoul. Enam bulan kemudian kakak Park Hae Young keluar dari penjara. Karena merasakan ketidakadilan, ia berniat mencari tahu siapa pelaku sebenarnya dengan bantuan dari detektif Lee Jae Han. Hal ini jelas membuat polisi yang disogok tadi kebingungan. Ia tidak ingin kasus tersebut terungkap. Then, the worst thing happen. Park Sun Woo dibunuh. Setelah kejadian itu, hidup Park Hae Young bener – bener berantakan. Dia jadi sering berantem, emosinya cepet naik, sekolahnya jadi nggak jelas. Long story short, Park Hae Young kemudian sadar kalo dia nggak bisa gitu terus, akhirnya ia masuk ke akademi kepolisian dan menjadi detektif. Oke, dongeng selesai.

Dari cerita itu saya dapat satu pelajaran. Uang ternyata beneran bikin buta. Apalagi ini yang dirugikan nggak cuma satu orang. Tapi satu keluarga. Kalo aja nggak ada sogokan, kalo aja polisi bisa bekerja sesuai dengan prosedur. Nggak akan ada keluarga yang terpecah, nggak akan ada orang yang nggak bersalah lalu dihukum, nggak akan ada juga yang harus mati dibunuh. Satu hal yang pengen saya share ke kalian adalah okelah kita punya uang, punya segalanya, tapi hal itu nggak lantas membuat kita punya hak untuk menyakiti orang lain, merusak hidup orang lain, bahkan merebut kesempatan hidup orang lain. Terlepas dari semua perhiasan duniawi, kita sama – sama manusia, kita punya hak yang sama. Manusia itu dibekali dua hal, akal dan hawa nafsu. Kalo cuma mendengar hawa nafsunya, apa bedanya sama makhluk yang lain? Kita punya akal yang bisa kita pake untuk tetap berpikir rasional. Coba deh sebelum melakukan sesuatu berpikir berulang kali. Yang dilakukan ini benar nggak. Sogok menyogok seharusnya memang nggak ada pembenarannya. Gini coy, cari rezeki itu nggak masalah, tapi kalo haram buat apa? Belajar dari cerita tadi, hanya karena buta dengan materi menjadikan hidup beberapa orang hancur. Park Sun Woo kehilangan kesempatan hidupnya. Park Hae Young kehilangan kesempatan untuk hidup sebagai orang yang baik – baik saja. Ayah dan ibu mereka juga hancur hidupnya ketika melihat keluarga mereka terpecah belah.

Hidup, mati, rezeki, dan jodoh seseorang udah diatur sama Allah. Kenapa manusia malah mempermasalahkan hal yang udah pasti. I mean, kita ini nih belum punya jaminan apa – apa untuk masuk surga. Belum tau banyakan mana dosa atau pahalanya. Lalu kenapa kita nggak melakukan hal – hal yang setidaknya bisa nolong kita masuk surga daripada terus mengejar sesuatu yang sebenarnya udah diatur sama Allah. Kalo udah rezeki nggak akan kemana kok. Allah udah menjamin rezeki untuk setiap makhluk-Nya. Tapi kalo surga, udahkah kita yakin dapetin itu? Belum kan? Gini coy, jangan sampe hal – hal duniawi itu membuat kita buta, membuat kita nggak sadar bahwa kita hidup itu bersama dengan orang lain juga. Ada hak – hak orang lain yang harus kita hormati. Jadikanlah hidup kita yang cuma sekali ini untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Lebih adem mana hidup dengan merusak kehidupan orang lain atau hidup dengan bermanfaat bagi orang lain? Sekian. See you!

NB: kayaknya Indo harus belajar bikin tontonan televisi yang semacam ini, nggak cuma cinta – cintaan doang, tapi yang ada pesan moralnya. Semoga semakin banyak orang – orang yang mau bikin skenario kayak gini, supaya makin banyak juga pilihan tontonan yang nggak hanya menghibur tapi bikin pikiran lebih terbuka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s