Opinion

Organisasi? Buat apaan?

Hi! Welcome back di blognya Renita. Hari ini saya mau bahas mengenai hal yang nggak jauh – jauh dari kehidupan pelajar Indonesia. Entah masih sekolah atau udah jadi mahasiswa, istilah organisasi bukan hal yang asing lagi kan? Saya tertarik bahas ini karena saya sempat lihat di sosmed ada yang bertengkar di comment section cuma bahas penting nggaknya organisasi. Hhhh.. Kapan society ini bisa jadi dewasa sih? Sebenarnya organisasi tuh penting nggak? Di organisasi kita bisa berkembang nggak? Kalo ditanya gini, saya pribadi akan jawab penting. Penting banget malah. Tapi pertanyaan semacam itu termasuk pertanyaan yang personal banget. I mean, nggak semua orang akan jawab sama kayak saya. Pasti ada yang beranggapan kalau organisasi itu cuma buang – buang waktu dan tenaga, yang mereka pikir waktu dan tenaga itu bisa digunakan untuk belajar. Saya nggak menyalahkan, karena emang organisasi menyita waktu banget. Kan tujuan utama kita adalah belajar, ngapain macem – macem? Iya bener, tapi satu yang nggak disadari, di organisasi kita juga belajar loh. Emang nggak belajar di kelas, karena lewat organisasi kita belajarnya adalah belajar bersosial. Human can’t live by himself. Kita tahu bahwa manusia itu makhluk sosial, tapi hanya karena kita terlahir sebagai makhluk sosial nggak lantas membuat kita pintar dalam bersosialisasi. Kita juga butuh belajar. Gini, kita yang terlahir dengan panca indera yang lengkap nggak bisa apa – apa juga kan kalo ngga dilatih jalan, dilatih bicara, dilatih dengar. Semuanya butuh belajar coy.

Setiap manusia punya sifat masing – masing. Semakin banyak kita ketemu orang, akan semakin banyak juga kita belajar untuk memahami karakter manusia. Entah ini opini pribadi saya atau emang gini kenyataannya, sampai sekarang saya belum nemuin pattern yang pas untuk merumuskan gimana kehidupan sosial itu. Sosial itu nggak kayak matematika atau fisika yang jelas pattern-nya. Simplenya gini, ketika kita nemuin masalah di matematika, akan ada alur yang bisa dipake untuk menyelesaikan itu. Yang harus kita pahami disini cukup alurnya, konsep dasarnya. Kalo suatu saat kita ketemu masalah yang hampir sama, ibaratnya cuma diganti variabelnya aja, bisa diselesaikan dengan alur yang sama. Everything’s gonna be fine. Sedangkan kehidupan sosial itu beda. Ketika kita paham alur penyelesaiannya aja itu nggak cukup. Misalnya variabelnya itu manusia, ketika variabelnya diganti, kita nggak bisa pake alur yang sama untuk menyelesaikan masalah itu. Karena sifat manusia yang beda – beda ini menyebabkan penyelesaian masalahnya juga beda. Maka dari itu dengan kita ketemu banyak orang, kita akan semakin banyak kenalan dengan sifat – sifat manusia. So, we know how to solve every problem about human things.

Tapi nggakpapa juga kalau ada yang beranggapan bahwa organisasi itu nggak penting karena kita belajar bersosial juga nggak harus dari organisasi. We don’t have to judge somebody who doesn’t trust organization. Sekali lagi setiap orang itu beda – beda. Mereka punya cara berpikir dan pandangan yang beda. Mungkin aja mereka punya cara mereka sendiri untuk mengembangkan soft skill mereka tanpa lewat organisasi. We don’t know, right? Tapi kalau menurut saya pribadi, organisasi itu ibaratnya sekolah, wadahnya. Belajar suatu mata pelajaran emang nggak harus di sekolah formal. Bisa lewat homeschooling dan lain sebagainya. Tapi sekolah formal itu fasilitas paling mudah yang bisa kita gunakan untuk belajar. Di sekolah formal kita ketemu temen – temen yang bisa bantu kita kalau kita ada masalah sama suatu mata pelajaran, ada banyak guru yang bisa ngajarin kita. Begitupun dengan organisasi. Organisasi itu sekolahnya. Di organisasi kita ketemu temen – temen yang bisa bantu improve soft skill kita. Ada alumni – alumni dari organisasi itu yang bisa bantuin kita menyelesaikan masalah dengan lebih dewasa. Namun kita belajar bersosial juga nggak dari organisasi doang kan? So, please berhenti adu argumen tentang penting nggaknya organisasi. Setiap orang punya porsi kebutuhannya masing – masing. Nggak akan bisa dipukul rata, karena sekali lagi kehidupan sosial itu nggak ada hitungan pastinya.  

Menurut saya nih ada baiknya kita menilai sesuatu ketika kita sudah bisa meliat sesuatu itu nggak dari satu arah doang. Cobalah untuk ikut organisasi. Satu aja dulu. Cari organisasi yang sekiranya cocok buat kita. Organisasi kan banyak tuh ranahnya. Ada yang fokus ke politik, ada yang pendidikan, kepemudaan, sosial, dan masih banyak lagi. Kita sebenarnya punya banyak pilihan organisasi kok yang bisa kita ikuti. Kalau organisasi dalam kampus nggak ada yang sesuai, coba aja organisasi di luar kampus. Bahkan organisasi luar kampus lebih banyak macamnya dan menurut saya sih lebih banyak benefitnya. Karena kita ketemu orang dengan berbagai macam latar belakang lebih banyak lagi. Yangmana bisa bikin kita belajar lebih open minded. Setelah nemu organisasi yang pas, belajar dari sana. Rasain enak nggak enaknya. Ketika dapat sesuatu yang bisa dipelajari, ambil itu. Misal dapat yang nggak enaknya, telen aja dulu. Jangan trus ditinggal gitu aja, karena prinsipnya organisasi itu jalan bareng – bareng. Kalau satu aja tumbang, lainnya juga akan bermasalah. Apapun yang akan kita dapat nantinya entah itu merugikan atau nggak, paksa jalan aja dulu sampai kepengurusan kita berakhir, sampai tanggungjawab kita selesai. Setelah itu kita akan tahu, organisasi itu cocok nggak sama kita. Kita nyaman nggak bagi waktu belajar kita dengan kegiatan semacam itu. Baru dari situ kita bisa menilai mau mengembangkan soft skill kita dengan cara apa. Kita sendiri yang paling tahu hal itu. Tapi jangan sampai nggak melatih soft skill ya. Karena seperti yang saya tulis diatas. Semua itu butuh belajar.

funny-reality-time-money-energy-young-adult-old-pictures-images-photos

Ada yang pernah lihat gambar diatas? Ini salah satu alasan saya kenapa saya ingin mengembangkan soft skill saya lewat organisasi. Saya sadar bahwa saya masih di fase pemuda. Di fase yang saya punyai cuma waktu dan tenaga. Di fase yang saya sangat lemah di ekonomi. Gimana nggak, saya masih kuliah. Apa – apa masih bergantung sama orang tua. Makanya saya mau manfaatin apa yang saya punya untuk improve diri saya. Saya mau waktu saya, tenaga saya, saya gunakan untuk mengembangkan diri dari segi apapun. Karena saya tahu bekal pelajaran dan pengalaman itu lebih saya butuhkan daripada bekal uang. Makanya saya mau manfaatin semua fasilitas dari orang tua saya buat bekal hidup saya nanti. Prinsip saya, selagi masih muda tuh cobain aja semuanya. Misal gagal, gagalnya tuh pas masih muda, masih punya banyak tenaga buat bangun lagi. Dan menurut saya pengalaman itu penting buat kita belajar. Semakin banyak hal yang kita lakukan, akan semakin banyak juga hal yang bisa buat kita belajar. Pengalaman itu nggak harus yang enak – enaknya doang, sesekali harus ngerasain nggak enaknya supaya tahu tujuan kita sebenarnya ngapain. Makanya mumpung masih muda, nikmati aja semuanya. Jalanin aja semuanya. Karena saya mau ketika saya tua, at least saya bisa kasih cerita ke anak saya yang nggak malu – maluin banget.

Setelah saya ikut organisasi, saya merasa dapat pelajaran yang saya cari. Dari organisasi saya belajar untuk nggak egois karena banyak kepala yang harus saya pikirkan juga. Dari organisasi saya belajar untuk bikin skala prioritas tanpa mengacuhkan yang lainnya. Saya juga belajar gimana peduli dengan orang lain, menghargai setiap tindakan orang lain, gimana dapat koneksi dan yang paling utama adalah saya belajar untuk bersosialisasi. As you know I’m an introvert girl. Saya sebelum kenal organisasi tuh masuk dalam kategori manusia ansos. Ansos banget malah. Bahkan sampai sekarang sih hehe Tiap hari diem di kandang mulu. Saya dulu kerjaannya cuma keluar masuk rumah. Nggak ngerti caranya having fun with other people. Nggak ngerti caranya lebih terbuka dengan orang lain. Ngomong pun lebih banyak mikirnya daripada pas eksekusi. Yeah, that’s me. Si manusia ansos. Ketika masuk kuliah saya sadar bahwa saya perlu belajar buat sosialisasi. Apalagi saya di jurusan kimia. Jurusan yang mengharuskan saya hampir setiap hari di kampus terus. Hampir setiap hari ngerjain laporan, presentasi, tugas, dsb itu yang menyita waktu banget. Saya mikir trus kapan waktu saya ketemu orang lain? Saya perlu ketemu banyak orang. Karena saya itu ansos kan ya, jelas nggak mungkin saya bisa kenal sama stranger yang secara nggak sengaja saya temuin di jalan. Jelas nggak mungkin saya dapat temen cuma gara – gara duduk sebelahan. At least if I did it, I think it doesn’t work on me. Saya pun tipe orang yang butuh waktu lama untuk dekat dengan orang lain. Makanya saya mikir organisasilah tempat yang pas buat saya belajar bersosialisasi.

Tapi dengan saya menganggap bahwa ikut organisasi itu penting bukan berati yang nggak ikut organisasi itu jelek. Sama sekali nggak. Setiap orang bebas milih jalan hidupnya masing – masing. Mau dia jadi kupu – kupu (kuliah pulang – kuliah pulang) ataupun kupa – kupa (kuliah party – kuliah party), itu terserah dia. Please jadi lebih dewasa ya guys. Jangan karena kita menganggap suatu hal benar lalu kita mengharuskan setiap orang berpikir seperti itu juga. Kita sama sekali nggak punya hak untuk menghakimi setiap pilihan orang. Semoga kita lebih respect dengan pilihan orang lain ya. That’s all. See you!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s