Opinion

Body Positivity, Pentingkah?

Hi! Welcome back di blognya Renita. Is it okay to call someone fat? Is it okay to call someone ugly? Sekarang kalo harus jujur, what is the first thing you notice when you met someone? Entah itu kenal atau nggak, entah itu pernah ketemu atau nggak, hal pertama yang akan dilihat adalah fisik. “Eh orang itu cantik ya.” “Eh, kok dia gendut banget ya.” Ketemu orang yang bahkan kita kenal pun selalu fisik yang dilihat pertama kali. Misal saat ketemu temen lama, “Kok kamu tambah gendut sih?” “Kok iteman sih?” Is it true? I think you guys will answer, Yes. So now let’s talk about body positivity. Secara nggak sadar kita dibentuk mentalnya untuk apa – apa lihat fisik. Kita sebenarnya tahu kalo itu nggak baik. Tapi kita terlalu dibiasakan untuk menganggap bahwa talking about appearance is a normal. Akhirnya kita terbiasa untuk menilai fisik seseorang dengan santai aja. Kita nggak mikirin bahwa dia akan tersinggung atau merasa nggak nyaman. Dan hal yang tidak kita sadari adalah perbuatan kita itu menimbulkan opini tentang how to look as good as human think. Yang nggak ngerti juga look good disini atas standard siapa, atas dasar apa.

Ngomongin tentang body positivity saya jadi inget orang korea. Ini mungkin kebanyakan nonton drama kali ya, oke back to the topic. Kita tahu bahwa orang korea ini adalah orang – orang yang concern banget masalah beauty standard. Mungkin emang nggak semuanya tapi mostly begitu. Operasi plastik disana pun udah bukan hal yang wah lagi. Bahkan saya pernah baca, ada orang tua di korea yang memberi hadiah ulang tahun anak mereka berupa biaya untuk operasi plastik. Man! Ini mau operasi plastik apa beli gorengan. I mean segitu mudahnya orang tua disana memperbolehkan anak – anaknya untuk operasi yang bisa aja bahaya untuk mereka. Mungkin pemikiran ini karena saya orang timur ya, which plastic surgery is a big deal for me. Yang kalo denger istilah operasi plastik pikiran saya langsung kemana – mana gitu lo. “Waahh.. Operasi plastik!” Like that hehe Tapi masalah operasi plastik ini dilema juga sih. Di satu sisi, jelas itu hak mereka. Mau merubah wajah segimana juga, itu pilihan mereka. Toh muka mereka, operasinya juga pake uang mereka. Tapi di sisi lain saya menyayangkan mentality orang – orang ini. Dimana mereka terus menerus berpikir bahwa mereka jelek. Mereka terus aja mikir mukanya kurang cantiklah, pipinya kurang tiruslah, hidungnya kurang mancunglah. Gini lo coy, yang namanya source of happiness itu nggak didapat dari fisik doang. Banyak kok hal – hal lain yang bisa bikin kalian senang, bikin kalian pede tanpa harus menempatkan beauty standard at the top of your priority.

Lingkungan itu ternyata punya kendali yang kuat banget terkait hal ini. Gimana nggak, kita dalam sosialisasi ketemu orang, kita melakukan suatu hal dilihat orang. Kita pun nggak punya akses untuk membatasi penilaian – penilaian orang tentang diri kita. Jadi, pilihannya adalah kita dengerin mereka atau berusaha untuk bodo amat dengan penilaian itu. Saya punya cerita. Saya itu orang yang jarang banget pake rok. Belum tentu dua minggu sekali saya pake rok. Dan sekalinya saya pake rok, temen – temen saya kayak langsung notice gitu lo. “Eh, tumben pake rok.” Meskipun itu bukan pertama kalinya mereka lihat saya pake rok, tetep aja ketika saya pake rok ada yang bilang gitu ke saya. I mean, coy kenapa yang di notice itu selalu rok saya? Why? Saya nggak ngerti aja gitu, kenapa basa – basi di lingkungan kita tuh masih seputar penampilan. Kenapa nggak tanya hal lain yang lebih penting, atau ngomongin hal lain yang nggak waste the time banget gitu lo. Maksud saya, saya mau pake rok, saya mau pake celana, saya mau pake apapun itu, kendali itu ada sepenuhnya di saya. Kasarnya, saya capek denger orang – orang ini bilang “Kok tumben pake rok.” Intinya kita coba deh balikin ke esensi berpakaian itu sendiri. Tujuannya apa? Nyaman kan? Yaudah, selama itu nyaman kenapa kita harus mengganggu kenyamanan dia dengan ocehan kita. Satu lagi, dulu ada temen yang bilang ke saya “Orang kurus itu kalo pake baju stripe, yang stripenya horisontal aja biar keliatan lebih berisi. Trus kalo gemuk yang vertikal biar keliatan kurus.” Damn! I tell you one thing, udah banyak banget aturan yang mengatur hidup kita. Sedangkan fashion itu bebas. Kenapa kita harus membatasi diri dengan aturan lagi sih? Hidup itu sebenarnya mudah, tapi kita sendiri yang terkadang mengharuskan ini itu jadi terkesannya sulit dan penuh tekanan.

“Ya kita kan cewek, wajar dong pengen cantik.” Saya nggak menyalahkan. It’s up to you. Tapi gini lo, saya itu ngeliatnya, you push yourself too much to reach the beauty standard. Yang sebenarnya beauty standard tuh nggak ada. Beauty standard itu jadi ada karena orang – orang yang selalu merasa tidak puas dengan fisik mereka. Dan menurut saya gara – gara beauty standard yang muncul di lingkungan kita ini menjadikan kita kurang bersyukur. Kita diberi mata yang bisa lihat itu belum cukup? Kita diberi hidung yang bisa nafas itu juga belum cukup? Lingkungan ini tuh terlalu menekan kita untuk terus menerus melihat kekurangannya aja. Yang sebenarnya dibalik kekurangan itu banyak banget kelebihan yang jadinya nggak kita sadari. So guys, trust me! Nggak perlu seperti Jennifer Lawrence untuk dibilang body goals. Nggak perlu seperti Emma Watson untuk dibilang beauty goals. 

You are beautiful on your way. Just love yourself, no matter what shape your nose, how wide your forehead, what size your body. Just love it.

If you can’t change your society, at least change yourself. Merubah lingkungan itu emang susah dan butuh waktu lama. Tapi kalau mau sebenarnya bisa kok. First thing you have to do is change yourself. Misal, kalau ketemu orang mulai rubah cara basa – basinya. Stop ngomongin tentang fisik. Karena kalau nggak ada yang inisiatif untuk merubah situasi, sistem di society kita yang mendewakan fisik ini akan terus aja muter. Selamanya nggak akan ilang. Kemudian mulai stop scanning diri sendiri kalo yang dicari jelek – jeleknya aja. Coba deh sesekali nyaca dan bilang semua kelebihan yang ada di diri kita. Muji diri sendiri aja gitu. Emang narsis, tapi nggakpapa. Karena darisitu kita akan bisa menghargai apa yang udah kita punya dan berhenti untuk memandang sesuatu dari jelek – jeleknya aja. Selain itu kita bisa membiasakan diri untuk nggak peduli dengan penampilan orang. Karena biasanya orang yang concern dengan penampilannya akan begitu juga saat melihat penampilan orang lain. Santai aja coy. Mau orang lain dandan seaneh apapun ingat bahwa kita nggak punya hak untuk judge itu. Mereka punya kebebasan juga untuk jadi diri mereka sendiri. Coba deh untuk mikir “Yaudahlah suka – suka dia mau pake baju gimana.” Kalau kita bisa berubah seperti itu, lama kelamaan sistem yang berjalan, sistem tentang beauty standard ini, bisa putus, udah stop sampai disini. Udah ya ngomongin fisiknya. Udah ya ikut campur kebebasan orang lain. Kita bisa mulai ngomongin hal lain yang lebih penting. So guys, don’t make your life under pressure. Lingkungan nggak akan berubah kalau bukan kita yang mengubahnya. Sekian opini saya. See you!

Advertisements

3 thoughts on “Body Positivity, Pentingkah?

  1. This opinion tell about how loking the weird world. And shit, this is our world. 😊😊😊 be the great one. Keep writing. And dont forget to visited my blog karangpadalaut.wordpress.com.
    Asap and bye

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s