Opinion

Sebenarnya Toleransi Kita Dimana?

Hi! Welcome back di blognya Renita. Balik lagi ke opini. Yes I said ‘Opini’. So, it should be okay if what you’re thinking is different from mine! Topik bahasan kali ini adalah mengenai berita yang masih anget banget. Angetnya sampai nggak dingin – dingin haha. Apa lagi kalo bukan kasus tentang penistaan agama. At the beginning, I told you that I’m muslim. Yang dari satu sisi, agama saya yang jadi korban. Saya bilang satu sisi loh ya, yang artinya kasus ini seharusnya nggak dinilai dari satu sudut pandang aja. Teeet… Don’t you know what I mean? Yep, saya pro si A. Saya nggak setuju kalo si A ini dipenjara. Saya jelasin dulu, saya nggak beropini sebagai seorang muslim. Why? Menurut saya kalau saya bicara sebagai umat Islam, nggak akan ada habisnya. Karena si A pun nggak satu keyakinan dengan saya. Mana bisa saya bicara dari sudut pandang agama saya saja.

Social media sekarang lagi panas – panasnya. Saya buka social media apapun selalu ada postingan tentang kasus ini. Nggak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun saya mendapati hal yang sama. Hhhh.. Dan entahlah selalu ada manusia – manusia yang menebarkan hate speech. I mean, Indonesia sekarang masih sensitif. Salah bicara sedikit aja, bakal runyam. Jadi tolong sekali kesadarannya untuk berhenti koar – koar yang bisa menyebabkan situasi ini semakin panas. Sebenarnya yang buat kita terbelah jadi dua kubu sekarang ini bukan si A tapi kita sendiri yang secara nggak sadar mengkotak – kotakkan manusia. Indonesia sekarang makin gampang kehasut. Apalagi kalo udah bahas agama. Masalah SARA adalah masalah paling riskan. Suatu kelompok akan sangat gampang terpecah kalau udah kena kasus SARA. Satu yang sangat saya sayangkan. Why don’t you guys talk about something more useful than Ahok? Banyak loh kekurangan – kekurangan dari negeri ini yang butuh kita kritisi supaya bisa diperbaiki. Kenapa fokus kita cuma ke si A ini melulu? Kenapa sikap kritis kita muncul ketika bahas si A ini doang? Halooo.. Indonesia nggak cuma Ahok. Indonesia itu luas coy. Indonesia masih banyak masalahnya. Indonesia masih banyak kurangnya. Saya memang pro si A tapi saya nulis ini bukan cuma karena si A. Saya merasa bahwa ada yang salah dengan lingkungan kita sekarang. Kita terlalu gampang ngikuti arus. Ada yang bilang agama kita dihina, kita iyain aja. Ada yang bilang si A penista agama, kita iyain aja. Ada yang bilang harus aksi demo, kita iyain aja. Iyain aja semua. Nanti Indonesia bubar juga iyain aja. Sejauh ini dapat poin yang pengen saya bahas nggak sih?

Gini. Coba deh runut dari awal. Yang membuat Indonesia sekarang terasa terbelah apa? Kasus si A? Omongan si A? No man! Kita sendiri yang membuatnya. Kita yang terlalu overact. Sekarang saya tanya, yang katanya pro si A, yang katanya kontra si A, yakin kalian semua tahu kasusnya? Penyebabnya? Kalimat yang disampaikan si A? Saya nggak yakin kalau semua pendukung si A ataupun kontra si A ini tahu ceritanya dari awal. Meskipun tahu, pantes nggak orang – orang ini menyebar kata – kata nggak enak untuk si A di dunia maya? Pantes nggak orang – orang ini berkata ‘Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika’? Pantes nggak orang – orang ini menyebut dirinya pejuang agama? Poinnya adalah nggak ada asap kalo nggak ada api. Indonesia pecah ya karena kita yang gampang tersulut emosi. Hasilnya muncul oknum – oknum yang memanfaatkan momen ini untuk kepentingan pribadi. Jadi intinya, Indonesia Bhinneka Tunggal Ika itu jadikan harga mati. Separah apapun keadaannya, Senggaknyaman apapun kondisinya, Indonesia ya tetap begini. Indonesia ya tetap dari Sabang sampai Merauke. Indonesia ya tetap Islam, Kristen, Katholik, Budha, Hindu, dan Khonghucu. Indonesia ya tetap Sumatra, Jawa, Madura, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

“Kan bisa saja dalam hati kecil, bapak, ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongi (orang) dengan surat Al Maidah (ayat) 51 macam-macam itu. Itu hak bapak, ibu.” – Ahok

Al-Maidah ayat 51: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu).” – dan ini ayat yang dimaksudkan si A sebagai alat orang lain untuk menghasut agar tidak memilih si A.

Tolong sekali dicerna baik – baik kalimatnya. Maksud si A itu yang membodohi bukan Al – Maidah-nya, tapi yang memakai Al – Maidah untuk kepentingan politik. Si A justru mempersilahkan orang yang mau menggunakan Al – Maidah tersebut sebagai pedoman agar gak memilihnya. Si A ini intinya cuma mau bilang cari pemimpin itu yang keliatan kerjanya. Bukan ngomong doang yang bagus, bawa – bawa Ayat Al – Qur’an tapi nggak bisa tanggungjawab dengan omongannya. So he said like “bapak, ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongi dengan surat Al Maidah 51 macam-macam itu.” Oke mungkin ada yang menyanggah dengan ‘Why Islam?’, ‘Kenapa yang disebut ayat suci Al – Qur’an? Bukan agama lain?’. Ada yang ingat kapan si A mengatakan hal itu? Mendekati pilkada kan? Tahu kan lawan – lawan si A ini? They’re muslim. So, you got my point, right?

Oke lanjut ke kasusnya si A. Jadi si A ini sekarang udah resmi divonis 2 tahun penjara, dijerat dengan UU Penodaan Agama. Undang – Undang Penodaan Agama jelas merupakan perangkap yang memagari cara berekspresi seseorang. Nggak semua orang ngomongnya bisa kalem, nggak semua orang ngomongnya pake basa – basi yang muter aja nggak ketemu intinya, nggak semua orang bisa nebak persepsi orang lain mengenai bahan pembicaraannya. Menurut saya UU ini kurang kuat dijadikan dasar untuk memenjarakan Ahok karena masih tinggi unsur subyektifitasnya. Bahkan dunia luar pun saat ini juga menyoroti UU Penodaan Agama dan mereka beranggapan bahwa perlu adanya kajian ulang mengenai UU ini. UU Penodaan Agama ini bisa memenjarakan siapa saja hanya karena imajinasi orang tersebut, hanya karena persepsi seseorang akan suatu agama. UU Penodaan Agama ini pun bisa menghukum seseorang yang berbicara tentang Al – Qur’an semampu yang dia bisa. Sekaligus bisa menjadi alat bagi orang – orang berkepentingan untuk mencapai tujuannya.

Akan ada saatnya kita tahu bahwa semua masalah ini punya kemudi dan otomatis akan ada seseorang yang memegang kemudi itu. At the end saya minta maaf kalau paparan saya diatas sedikit kasar. Saya hanya merasa ada yang salah di negara saya, dan saya ingin Indonesia ya Indonesia. Bukan Islam saja. Bukan Kristen saja. Bukan Jawa saja. Bukan pula Tionghoa saja. Indonesia ya ini, negara dengan perbedaan suku, agama, dan ras. Indonesia ya ini, negara yang butuh toleransi tinggi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s