Opinion

Dari Trisakti Hingga Indonesia Kini

Hi! Welcome back di blognya Renita. Sekarang coba yuk kita tengok kejadian 19 tahun yang lalu. Momen ini selalu muncul di pelajaran sejarah saat kita sekolah. Tapi apa hanya sebatas materi sejarah? Kemarin, 12 Mei 2017, tepat 19 tahun tragedi Trisakti. Mungkin ada yang saat itu sama kayak saya, belum lahir haha Maka, opini saya ini hanya berdasar referensi yang saya dapat, saya nggak tahu aslinya gimana, so correct me if I wrote something wrong. Kejadian 19 tahun yang lalu ini bisa jadi refleksi buat keadaan negara kita sekarang. Apakah kita sudah benar – benar reformasi? Apakah demokrasi kita sudah berjalan sebagaimana mestinya? Kejadian 19 tahun yang lalu adalah bukti bahwa suara mahasiswa dan rakyat masih bisa terdengar sampai ke gedung para penguasa. Tapi pertanyaannya, telinga para penguasa ini enggan mendengar atau tidak? 19 tahun yang lalu adalah fase dimana kita muak dengan sistem pemerintahan, kita lelah untuk terus dibungkam, sampai – sampai kita hilang toleransi dan merusak negeri sendiri.

Tragedi Trisakti bukan satu – satunya masalah di Mei 1998. Kerusuhan dan kekerasan selalu mengikuti ingatan kita mengenai kejadian waktu itu. Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa—terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai – ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Dari dulu isu SARA selalu menjadi masalah besar bagi bangsa ini. Bahkan, bisa jadi tangan – tangan para elite yang tidak bertanggung jawab ikut bermain, demi mengais untung di tengah terpuruknya situasi. Yang katanya Indonesia Bhinneka Tunggal Ika, akankah hanya wacana? Inflasi besar – besaran, kekerasan merajai jalanan, sudahkah terlupakan? Kerusuhan 1998 yang nggak bisa begitu saja mudah dilupa, selalu mengingatkan kita bahwa negeri ini butuh untuk dikritisi. Negeri ini butuh solusi. Kerusuhan 1998, khususnya Tragedi Trisakti, sekaligus menjadi bukti bahwa nasib negeri ini ada di tangan pemuda.

Dan inilah wajah negeri kita

tragedipilumei1998(2)

Bicara soal HAM, negeri ini punya rentetan cerita kelam. Nggak tahu siapa yang salah, nggak tahu siapa yang harus bertanggungjawab. Kejadian di hari selasa, 12 Mei 1998 bukanlah hal yang diinginkan siapapun, khususnya bagi 4 mahasiswa korban Tragedi Trisakti kala itu, yakni Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hertanto dan Hendrawan Sie. Oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono keempat orang ini diberi gelar sebagai Pahlawan Reformasi. Sekarang intinya, apakah dengan pemberian gelar tersebut semua telah usai? No man. Beliau – beliau ini adalah korban yang butuh keadilan. Pada tahun 2000 pemerintah sempat mengumumkan akan menginvestigasi 11 orang aparat yang diduga terlibat dalam tragedi tersebut. Namun, hingga sekarang, tak ada tersangka yang diinvestigasi. Hingga hari ini, keadilan bagi mereka tak kunjung menemui titik terang. Bagaimana bisa kasus yang telah berjalan selama 19 tahun ini masih juga belum selesai? Kenapa rasanya sulit sekali mengungkap kebenaran dan menyelesaikan masalah? Indonesia yang katanya negara hukum cukupkah segini proses penegakkannya? Bukan hanya sebatas tersangka yang diminta, tapi juga bukti – bukti yang nyata. Mengatakan seseorang bersalah itu mudah, tapi bukan hanya itu yang dimau. Rakyat Indonesia butuh kebenaran dan para korban itu butuh keadilan. Rumitkah permintaan seperti ini?

Mahasiswa sebagai rakyat Indonesia saat itu hanya ingin reformasi. Mahasiswa hanya ingin suarakan aspirasi. Mahasiswa hanya ingin udara segar dari pemerintahan negeri ini. Yang katanya demontrasi adalah cara untuk menyuarakan pendapat seakan hanya ada dalam teori. Dari kejadian Trisakti ini, muncul berbagai opini mengenai demonstrasi. Ada yang beranggapan bahwa Tragedi Trisakti adalah dampak yang harus diterima saat menantang pemerintah. Lalu bagaimana seharusnya kita bersuara? Dengan cara bagaimana lagi suara ini di dengar? Melihat keadaan saat ini, banyak yang berubah dari mahasiswa kita. Demonstrasi memang bukan satu – satunya cara untuk menyuarakan pendapat. Masih ada dialog maupun diskusi. Ingat dengan demo 121 yang digelar BEM seluruh Indonesia? Gini, kalo memang masih bisa dialog atau diskusi kenapa harus demonstrasi? Demo itu mudah sekali jadi pemicu kerusuhan. Demostrasi pun juga tidak asal demo. Harus ada dasarnya. Pertimbangannya harus matang. Dan yang paling penting nggak gampang kebawa arus. Menurut saya, ini kekurangan mahasiswa sekarang. Seringkali gampang tersulut emosinya. Dan menurut saya demo 121 ini kurang matang persiapannya, kurang kuat juga dasarnya. Mereka pun menyebut aksi 121 ini sebagai Reformasi Jilid II. Man! Reformasi nggak sesederhana itu. Sekali lagi jangan lihat masalah dari satu sisi aja. BBM naik, tarif biaya STNK, BPKB, SIM naik, itu pasti ada pertimbangannya. Yuk kita belajar dari kasus 1998, dimana demonstrasi memang alat untuk merubah yang salah. Bukan cuma cuap – cuap berdalih aspirasi.

Indonesia sekarang makin gampang goyah. Diterpa kasus perbedaan agama, demo. Diterpa persepsi yang sebenarnya salah, demo. Dikasih perubahan aturan, demo. Nggak selalu demonstrasi itu bisa jadi solusi. Negara yang udah goyah gini, jangan terus digoyang biar nggak tumbang. Kalo ada bara jangan malah diberi api. Mahasiswa menyuarakan pendapat dengan demo boleh, tapi juga yang intelek. Dikaji dulu masalahnya matang – matang. Juga utamakan damai, jangan mudah emosi. Intinya adalah jadikan masalah di masa lalu sebagai pembelajaran. Tragedi Trisakti adalah duka masa lalu bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama aktivis dari rumpun mahasiswa. Maka dari itu jangan sampai hal ini terulang lagi. Sekalipun Trisakti adalah masalah masa lalu, namun nggak begitu saja dilupakan. Keadilan tetap harus ditegakkan. Semoga di rezim Bapak Jokowi ini, apa yang salah di masa lalu bisa terselesaikan dengan adil dan damai. Sekian opini saya. See you, guys!

Sumber gambar: http://news.metrotvnews.com/read/2017/05/12/699596/yang-tersimpan-dari-mei-1998

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s