Another Story

Yang Salah itu Saya? Atau Lingkungan Saya?

Hi! Welcome back di blognya Renita. Akhir – akhir ini saya sadar kalo apapun yang kita lakukan itu selalu dilihat dan dinilai oleh orang lain. Tapi malangnya, nggak semua penilaian itu selaras dengan ekspektasi kita. Entah itu lebih baik atau malah lebih buruk. Kadang pula mereka menilai tidak sebagaimana seharusnya. Have you been heard about nerd? Yep, mungkin belakangan ini postingan saya sering nyebut – nyebut tentang nerd. Karena apa? Karena saya sangat terganggu dengan kata itu. Orang yang jarang keluar rumah dibilang nerd. Orang yang keseringan duduk di perpus dibilang nerd. Orang banyak tumpukan buku di rumah dibilang nerd. Orang yang basa – basinya melulu tentang ilmu dibilang nerd. Orang yang kalo browsing seringnya buka wikipedia atau bbc atau cnn dibilang nerd. Segitu sempitnya kah penilaian orang – orang ini?

Semakin kemari saya terus ditunjukkan dengan lingkungan yang nggak sehat. Kenapa saya bilang nggak sehat? Ya, karena saya terus melihat bahwa orang – orang di lingkungan ini semakin nggak ngerti arti kebebasan. Siapapun ingin melakukan apapun selama nggak ganggu hak orang lain seharusnya fine aja kan? Hasilnya jadi nggak banyak orang di lingkungan ini yang bisa jadi diri mereka sendiri. Mereka jadi terbawa dengan penilaian orang lain. Saat ini dibilang jelek, mereka melakukan effort lebih untuk membuatnya lebih baik *versi mereka*. Saat itu dibilang bagus, mereka akan mikir “Oh bagus itu yang kayak gini”. Sehingga akan muncul tolok ukur yang sebenarnya salah. Nggak di semua orang suatu hal bisa dinilai jelek. Nggak di semua orang suatu hal bisa dinilai bagus. That’s called point of view, dude.

Renita yang dulu adalah Renita yang selalu nurutin kata orang lain. Renita yang dulu adalah Renita yang selalu mikir bahwa seseorang emang butuh dinilai. Renita yang dulu adalah Renita yang selalu beranggapan bahwa penilaian seseorang nggak ada yang salah. Renita yang dulu adalah Renita yang kalo melakukan apapun berkiblat pada omongan orang. Bahkan Renita yang dulu nggak pergi ke perpus karena takut dibilang nerd. Renita yang dulu kalo baca buku selalu di rumah, karena takut dicie–ciein sama orang lain. Renita yang dulu kalo belajar nggak pernah mau dilihat orang lain karena takut dinilai sebagai orang yang nggak enak diajak bergaul, takut dinilai hidupnya cuma belajar doang. At least, itu yang saya rasain dari lingkungan saya. Dan saya sekarang merasa bahwa “You were too stupid, Ren.” Saya yang dulu terlalu bodoh untuk menjalani hidup menurut tolok ukur yang dibuat – buat manusia. Ya begitulah lingkungan saya. Nggak banyak orang yang suka baca, nggak banyak orang yang suka numpuk buku yang bukan buku pelajaran. Pergi ke perpus cuma kalo ada tugas doang, kalo nggak dianggep aneh, dianggep orang yang nggak asik karena kelihatan banget beda sama mereka. Yang menurut mereka nokrong ketawa ketiwi itu penting. Yang menurutnya pergi ke tempat hits jadi tolok ukur untuk jadi gaul. Yang menurutnya menilai orang itu bagus tapi nggak peduli dengan omongannya. Sekarang saya baru sadar kalo lingkungan saya sangat sangat childish. Darisitu saya balik lagi ke kandang. Saya jadi ogah – ogahan untuk keluar ketemu mereka karena saya merasa asiknya saya bukan di mereka. Mereka selalu memberi saya harus ini, harus itu yang membuat saya nggak nyaman. Sekarang saya sadar bahwa semua orang bisa nilai kita seenak mereka tapi nggak begitu aja mempengaruhi diri kita. Filter itu penting. Ngga semua yang keluar dari mulut mereka adalah aturan paten yang harus kita anut.

So, the thing I have to say to all of you guys is:

You don’t live to please anyone. You live life to express yourself, not to impress someone. And don’t be afraid if you’re different from others.

Orang mau menilai apapun itu hak mereka, dan jelas saya nggak bisa nyetop. Apapun yang saya lakukan pasti ada celah untuk dikritisi. Tapi saya punya tolok ukur terhadap diri saya sendiri. Saya tahu manusia seperti apa saya ini. Diri saya tahu pertimbangan – pertimbangan apa yang sudah saya perdebatkan di otak saya sebelum saya melakukan sesuatu. Saya sukses atau gagal sekalipun yang ngerasa itu ya diri saya sendiri. Hal itu yang buat saya sadar bahwa saya sesekali harus bodo amat dengan penilaian orang – orang disekeliling saya. Saya punya tujuan hidup yang jauh lebih penting.

Sekarang pertanyaannya adalah yang salah itu saya atau lingkungan saya? Now, you got my point, right?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s