Another Story

Antara Hati dan Emosi

Hi! Welcome back di blognya Renita. Pernah nggak sih kalian punya keinginan yang bener – bener kalian pengen? Yah semua orang juga pasti pernah, Ren, pake ditanya. Oke agak curhat juga sih ini nanti bakalan. Kebanyakan curhat ya? Maafkan. Jangan move ya wkwk Saya termasuk satu dari sekian orang yang suka merenung. Yep benar, merenung. Tapi merenungnya yang ada esensinya juga. Saya sering merenung terutama renungin hidup. Mungkin first impression kalian saya berlebihan. But I tell you the truth, dude. Dan saya pikir meluangkan waktu sejenak untuk merenungkan hidup itu penting. Penting banget. Karena disaat itulah kita bisa introspeksi diri sendiri. Kita bisa ngelihat diri kita sebenar – benarnya. Siapa lagi yang tahu diri kalian kalo nggak kalian sendiri.

Tapi entah kenapa akhir – akhir ini saya merenungnya sering banget. Ditambah keraguan itu datang lagi. Yap, kuliah di tempat saya sekarang bukan pilihan awal saya sebenarnya. Dan sekarang bimbang itu muncul lagi.

“Disini saya udah dapatin yang saya pengen belum sih?”

“Apa bener ini udah pilihan sebaik – baiknya yang saya pilih?”

“Apa saya beneran udah jalan sesuai passion saya?”

Ren, you’re 19th years old now! Kamu bukan anak 17 tahun yang masih pantes buat galau masalah beginian.”

Stop thinking like that! Jalanin aja dulu jalanmu disini.”

Mungkin itu hasil dari yang saya perdebatkan di otak saya sendiri. Mungkin saya sekarang ada di titik dimana saya muak sama semuanya. Saya capek buat bertahan. But I am too late to start the new one. Pernah nggak sih kalian ada di posisi yang sama kayak saya sekarang? Saat dimana kalian pengen banget suatu hal tapi kalian telat untuk mulai memperjuangkannya? Kayak orang stres nggak sih? Bingung ya baca ocehan saya? Ya inilah yang ada di otak saya sekarang. Semrawuuuuut.

Beberapa minggu yang lalu saya ikut talkshow di kampus yang dulu saya inginkan untuk jadi tempat saya belajar, plus di jurusan yang dulu sangat saya inginkan. Tahu gimana rasanya? Dulu saya selalu bilang ke diri saya sendiri. “Mungkin bukan tempatmu, Ren.” “Mungkin nggak berkah kalo kamu disini, Ren.” “Mungkin rezekimu di tempat yang lain.”. Dan segala kata mungkin saya keluarkan just to make myself stronger. Tapi sekarang saya sadar kalo ternyata saya belum ikhlas. Bener – bener belum ikhlas. Lihat temen – temen saya yang ikut SBM lagi tuh rasanya kayak ditampar. “Segitu doang usahamu buat kampus yang kamu pengen?” Mau ikutan lagi pun I am not prepared, karna juga nggak ada niatan pindah sebelumnya. Kata – kata ‘mungkin’ diatas tadi yang selalu jadi tameng buat saya stay. Tapi entah kenapa sekarang rasa bimbang itu datang.

You should’ve studied something else, Ren.”

You should’ve studied at somewhere else, Ren.”

“Dulu kamu ngapain aja? Kenapa nggak ada persiapan?”

If here isn’t your field, why you stay, Ren?

Saat saya ikutan talkshow itu, saya nggak sepenuhnya dengerin pemateri. Otak saya cuma debat kayak diatas. Mungkin saya udah stres dengerin kicauan di otak saya sendiri, dan saya langsung bilang ke temen saya “Damn man! Aku pengen pindah!”. Rada basi juga sih sekarang masih mikir kayak gini. Mau ngulang pun nggak ada persiapan. Udah nyemplung juga. Harusnya ya jalanin aja, lebih tepatnya dipaksa jalan. Tapi sialnya saya disini masih aja mikir, masih aja ngegalau. Harusnya diumur segini saya udah tau maunya apa, sukanya dimana. Meskipun kita tahu bahwa nggak semua yang kita jalanin harus yang kita mau dan kita suka. Hidup juga tentang perjuangan, coy. Tapi tetep aja sekarang saya bimbang. Buktinya saya juga nggak tahu mau saya bawa kemana ilmu saya ini nanti. Mau ngapain saya setelah sidang skripsi nanti. Saya sekarang merenung lagi. “Ini yang saya pengen nggak sih?” Itu terus yang muter – muter di kepala saya sekarang. Apa iya saya sanggup jadi orang yang kerjaannya bikin laporan dan ngelab mulu? Apa iya saya sanggup kalo nanti saya lulus dan lingkungan saya cuma seputar laboratorium? Apa iya saya sanggup tiap hari ngirup udara yang terkontaminasi berbagai senyawa kimia?

I pick my own path, but did I choose it thoughtfully?”, pertanyaan terbesar yang belum diketahui jawabannya. Benar atau nggak pilihan yang udah saya pilih ini cuma Allah yang tahu, kalo misal salah pun semoga Allah buka itu ketika saya diatas angin, at least at the place that makes myself still breath.

Today’s lesson dari hasil renungan saya adalah

Life isn’t just talking about what you love and what you want to do. Life is a journey that makes you learn more about yourself. Get out of your comfort zone is the best way to live this life.

Dan bener bahwa push myself to get out of my comfort zone adalah cara yang paling baik untuk saya bisa belajar. Belajar untuk bersyukur. Belajar untuk lihat segala sesuatu dari perspektif yang lain. Dan yang terpenting, belajar untuk nurutin hati bukan hanya emosi. Sekian. See you on the next post, everyone!

Sumber gambar:
http://www.rappler.com/indonesia/108189-webcomic-heart-vs-brain-hati-otak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s