Opinion

Selamat Hari Kartini

Hi! Welcome back di blognya Renita. Bohong banget kalo manusia itu nggak punya sikap apatis. Karena ya itu fitrah kita sebagai manusia. Saya mau bahas dikit masalah sikap apatis dalam stereotype. Pasti udah tahu lah apa itu stereotype. Kalo belum, please ask google. Google has everything’s answer, and I think that’s cool wkwk ok, back to the topic. Banyak banget stereotype yang beredar di sekitar kita. Entah itu terhadap negeri sendiri atau dunia global. Entah itu terhadap satu kelompok atau beberapa kelompok. Dengan stereotype, secara tidak langsung kita memukul rata semua manusia. Kita seringkali lupa bahwa setiap individu punya karakteristik masing – masing yang harus kita hormati.

“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” – R.A. Kartini

Karena bulan ini adalah bulan April dimana dianggap sebagai bulannya Kartini, pasti nggak asing dengan kata emansipasi perempuan. Kalau dibilang sekarang udah jamannya emansipasi, saya rasa belum tercapai sepenuhnya juga. Buktinya masih banyak stereotype yang ada di jaman Katini yang masih berlaku sampai sekarang. Stereotype seperti perempuan yang lebih lemah daripada laki – laki, perempuan yang kedudukannya harus dibawah laki – laki. Percaya atau tidak lingkungan ini pun masih menganggap bahwa seorang pemimpin yang baik adalah laki – laki bukan perempuan. Stereotype seperti inilah yang membuat kita memandang setiap individu sama. Padahal tidak semua perempuan lebih lemah daripada laki – laki. Tidak semua laki – laki pun lebih pantas menduduki jabatan petinggi daripada perempuan. Laki – laki dan perempuan menurut saya hanya sebatas gender, bukan suatu kotak yang membatasi perilaku manusia. Laki – laki dan perempuan sejatinya memang berbeda. Karena mereka memang berbeda. Mereka memiliki pola pikir, sikap, dan cara pandang yang berbeda. Namun stereotype seperti “laki – laki dengan rasionalitasnya, dan perempuan dengan sensitifitasnya” itu sedikit tidak bisa diterima menurut saya karena ya pasti ada perempuan yang lebih maskulin daripada laki – laki. Begitupun sebaliknya, pasti ada laki – laki yang lebih feminim daripada perempuan. Sehingga stereotype itu tidak bisa dijadikan tolok ukur dalam membedakan perempuan dengan laki – laki. Kita nggak sadar bahwa hal tersebut yang membuat peran perempuan terasa tenggelam.

Ambil saja kasusnya diera Kartini. Dalam kebudayaan Jawa dahulu ada yang namanya pingitan. Perempuan yang telah menstruasi dianggap sebagai perempuan dewasa yang sudah siap menikah. Pada umur segitu perempuan Jawa segera dipingit dan menunggu ada laki – laki yang datang ke rumahnya untuk meminang perempuan tersebut. They don’t care about women’s education. Stereotype jaman itu adalah perempuan ya tugasnya di dapur. Untuk apa sekolah tinggi.

Seandainya kalo berbagai stereotype itu tetap dianut hingga sekarang, akan sangat tidak adil bagi perempuan yangmana kedudukannya sama dengan laki – laki sebagai manusia. Oke untuk hal pendidikan mungkin sekarang udah nggak ada masalah. Perempuan sekarang mempunyai hak menempuh pendidikan setinggi yang dia mau. But what about their career? Saat masuk kerja okelah perbandingan laki – laki dan perempuan masih 50% / 50%. Tapi saat middle management, setelah 10 tahun, 15 tahun bekerja, ternyata si perempuan ini banyak yang resign karena berkeluarga, jadi istri, akhirnya punya anak, dan lebih terpanggil domestiknya saja. Nah dalam keadaan ini, berkeluarga itu menjadikan dia tidak bisa perform sebebas kolega – koleganya yang laki – laki. Akhirnya perbandingan antara perempuan dan laki – laki di dunia karir menjadi 30% / 70%. Imagine, diumur 50 – 60 tahun dimana mereka yang masih bertahan bekerja, mereka udah ada di tingkat C-suite, like CFO, CEO, COO, etc. Pada C-level ini rata – rata diduduki laki – laki, perempuan ada pun paling 1 sampai 2 orang doang yangmana nggak setara banget kan? Begitu juga di lembaga legislatif, di jajaran menteri – menteri. Hampir di semua sektor, para pengambil keputusan ini masih dipenuhi oleh laki – laki. Logikanya sekarang, masalah – masalah di dunia ini tuh random banget. Masalah – masalah kayak ekonomi, kelaparan, keterbatasan pangan sampai climate changes, itu kan masalah – masalah yang pasti berdampak pada seluruh manusia, nggak hanya laki – laki. Kalo si pengambil keputusan ini laki – laki semua, akan sangat tidak adil penyelesaian masalah tersebut tanpa mendengar dari perspective si perempuan. Karena yang menduduki dunia ini tuh nggak hanya laki – laki doang kan pastinya.

Jadi persoalannya, kenapa perempuan ini sulit sekali keluar dari zona domestiknya ini ya karena stereotypestereotype yang berlaku di masyarakat. Gini, perempuan seringkali masih terikat dengan dometiknya –untuk yang sudah bekerluarga– karena dia punya tugas di rumah. Sedangkan dunia di luar rumah, nggak menyediakan tempat untuk si perempuan ini bisa perform sebagaimana yang bisa laki – laki lakukan. Kalo laki – laki kan enak. Mau lembur pun dia nggak terikat dengan masalah rumah. Sedangkan perempuan, mereka nggak sebebas itu. Bayangin kalo di tempat kerja, perempuan di beri ruang untuk ngurusin pekerjaannya tapi juga bisa ngurusin kewajibannya di rumah, betapa akan produktifnya negara ini.

Now, what did we do? Kita seringkali menganggap bahwa hal tersebut adalah hal yang lumrah. Sudah biasa kalo perempuan itu tempatnya di rumah. Sudah biasa kalo karir perempuan itu nggak bisa sampai puncak seperti laki – laki. Kita nggak pernah tahu, bisa aja ada perempuan yang benar – benar punya kemampuan tapi karena stereotype ini dia tidak mempunyai tempat untuk bisa berkarir. Yep, kita nggak sadar betapa apatisnya kita akan hal ini. Kata siapa sekarang udah jamannya emansipasi kalo ternyata perempuan belum bisa berkontribusi secara optimal untuk lingkungannya. Jadi sebenarnya bukan hal yang basi kalo ada perempuan yang masih mau turun untuk bersuara tentang emansipasi. Kita saja yang sebenarnya terlalu apatis, terlalu tidak peduli bahwa sebenarnya perempuan masih butuh untuk diberdayakan. Okay that’s my opinion. Selamat Hari Kartini, para perempuan penggerak bangsa!

Sumber gambar:
http://www.aquila-style.com/focus-points/raden-ajeng-kartini-indonesias-champion-of-education-for-women/63853/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s