Opinion

Who am I?

Hi! Welcome back di blognya Renita. Postingan saya kali ini mungkin rada abstrak sih. Semoga yang baca bisa relate ya haha Jadi gini, beberapa hari yang lalu saat mata kuliah pendidikan agama islam kelas saya diberi beberapa pertanyaan, yang salah satunya adalah perihal life goals. Tujuan hidup. Boom. I’m blank. Yep, karena saya memang nggak tahu mau jawab apa. Saya nggak tahu sebenarnya mau saya bawa kemana hidup saya nanti, mau jadi manusia seperti apa saya nanti. Terdengar konyol? Mungkin. Usia saya sebentar lagi 19 tahun. Selama 19 tahun saya hidup dan berpikir, but until this time, I can’t find out my life goals. Kalau bicara tentang life goals kadang membingungkan menurut saya. Karena ya, manusia bisa bikin berbagai plan, ingin ini, ingin itu, tapi tetap aja semua tergantung Allah. Hanya Dia yang tahu bagusnya untuk hidup kita itu apa.

Oke, saya mau cerita sebentar. Waktu saya kecil, banyak banget orang yang tanya ke saya “Cita – citanya apa?” atau “Kalau udah gede mau jadi apa?”. Nggak seperti kebanyakan anak kecil lainnya yang langsung jawab “Pengen jadi tentara.” atau “Jadi guru.” atau “Jadi polisi.” Saya bingung. Saya bener – bener bingung. Saya mikir kalau saya jawab seperti kebanyakan jawaban temen – temen saya, apakah saya akan benar – benar menjadi seseorang seperti itu? Saya bingung karena saya nggak tahu akan jadi seperti apa saya nantinya. Terkadang kenyataan itu juga nggak sejalan dengan keinginan. Saya bukannya pesimis. Yeah, who knows? Saya waktu ditanyai seperti itu, umur saya masih sekitar 6 tahun, and of course it needs many years to make it happen, right? Saya waktu itu mikir, selama bertahun – tahun itu pasti pola pikir saya berubah, sikap saya, keinginan saya, prioritas saya, tanggungjawab saya, semuanya dalam diri saya pasti akan berubah. Dan apakah jawaban saya ketika kecil itu akan tetap revelan dengan keadaan diri saya sekarang? Pasti nggak kan? Lalu saya hanya menjawab “nggak tahu.” Wanna guess what they said after that? Yep, mereka kecewa. Ekspektasi mereka adalah saya akan jawab seperti kebanyakan teman – teman seumuran saya. Tapi saya nggak bisa. Karena alasan yang telah saya utarakan diatas.

Setelah menjawab demikian, sikap mereka nggak berubah. Lain hari mereka tetap menanyakan hal yang sama. Bahkan guru saya saat SD, mungkin kelas 2 atau kelas 3 saya lupa, pernah bikin papan yang ditempel mengelilingi dinding kelas. Dalam papan tersebut setiap siswa harus menuliskan nama dengan cita – citanya. Saya bingung waktu itu mau nulis apa. Ketika teman – teman saya sudah menuliskan cita – cita mereka, tempat saya masih kosong. ‘Dokter’. Akhirnya saya menuliskannya. Jujur saya menuliskan cita – cita itu bukan karena saya memang ingin menjadi dokter, saya hanya asal aja. Tapi saat saya menuliskan itu, they were silent. Ketika lain hari saya ditanyai apa cita – cita saya, dan saya menjawab dokter, mereka diam, tersenyum, dan tidak berkomentar apapun. Sejak saat itu ‘Jadi Dokter’ adalah kedok paling ampuh untuk saya menghindari tatapan kekecewaan dari orang – orang sekeliling saya.

Life goals. Tujuan hidup. Bicara soal life goals, apa satu life goals akan terus relevan seiring berjalannya waktu? Misalnya ketika life goals saya ingin memiliki pekerjaan yang mapan. Nanti setelah mendapatkannya apa lagi? Pasti selalu ada pertanyaan ‘setelah itu apa?’ atau ‘lalu mau apa lagi?’. Karena sejatinya manusia tidak akan memiliki rasa puas. Ketika saya SMA, ada guru saya yang menginspirasi saya mengenai masalah ini. Mulai saat itu saya perlahan merangkai keinginan saya. Menyusun to-do list untuk hidup saya. Tetapi mulai saat itu saya menjadi seorang yang sangat ambisius. Saya harus bisa mencentang semua yang ada di to-do list saya. Setelah saya menjalani semua to-do list saya, setelah itu apa? Kembali lagi ke pertanyaan di awal. Jadi sebenarnya life goals itu harus seperti apa?

Sampai saat ini pun saya masih mempertanyakan apa tujuan saya hidup? Kenapa saya hidup? Kenapa saya harus makan, minum, tidur, dsb untuk bisa bertahan hidup? Saya sempat menjadi seorang yang ambisius karena to-do list saya dulu. Terlewat ambisius malah. Hingga sampai di titik dimana saya hanya terfokus pada satu tujuan dan akibatnya banyak hal penting lain dalam hidup saya yang saya abaikan. Kemudian kejadian itu membuat saya sadar untuk membuka pikiran lebih luas lagi. Membuat saya sadar bahwa menikmati hidup jauh lebih penting daripada terus mengejar satu hal saja. Membuat saya sadar bahwa selama ini saya terlalu egois untuk tidak memberi diri saya ruang kebebasan. Mungkin setelah ini saya masih mencari jawaban atas segala pertanyaan saya diatas tanpa menyita waktu saya menikmati hidup. Okay, actually I just want to say, focus on your dream but don’t forget to be happy. That’s all I can say, see you on the next post everyone!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s