Opinion

Bebas, atau Sebebas – Bebasnya?

Hi! Welcome back di blognya Renita. Karena hari ini 9 Februari yang merupakan Hari Pers Nasional sekaligus Hari Wartawan Indonesia, yuk kita sedikit refleksi tentang pers kita sekarang ini. Kalau mau menilik sebentar ke belakang pers Indonesia pernah ada di masa – masa kelamnya. Masa dimana pers benar – benar dibungkam, dilarang berbicara apalagi bertindak. Saat dimana pers hanya dianggap sebagai alat permainan di panggung kekuasaan. Pers semakin terasa terkekang dengan diwajibkannya seluruh pers agar memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Penerangan (Permenpen) No. 01/Per/Menpen/1984 dan Surat Menteri Penerangan (SK Menpen) No. 214A/Kep/Menpen/1984. Kemudian ditambah lagi dengan timbulnya peristiwa pembredelan media massa oleh pemerintah saat itu yang berada dibawah pimpinan Presiden Soeharto.

Pada 21 Juni 1994, beberapa media massa seperti Tempo, deTik, dan Editor dicabut surat izin penerbitannya akibat mengeluarkan laporan investigasi tentang penyelewengan yang dilakukan oleh pejabat negara. Empat tahun setelah pembredelan tersebut dilakukan, pemerintahan Soeharto berhasil dilengserkan. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa pada saat itu pers pun ikut merasakan angin segar kemerdekaannya. Di era reformasi, pers telah bebas menyuarakan apa yang seharusnya menjadi makanan publik, memberikan apa yang seharusnya diketahui publik. Kebebasan pers menjadi salah satu bentuk kemerdekaan yang telah lama di idam – idamkan sederet jurnalis maupun aktivis di negeri ini, karena pers merupakan suatu sistem yang diharapkan mampu menguak kebenaran tanpa ada pengaruh dan tekanan dari siapapun. Maka dari itu kebebasan pers dianggap mampu menjadi jawaban atas banyaknya persepsi yang muncul diantara masyarakat. Tapi pertanyaannya sekarang, bebas atau sebebas – bebasnya?

Kebebasan pers semakin kemari saya rasa semakin menjauh dari tujuan pers itu sendiri. Pers hari ini seringkali ditunggangi oleh oknum – oknum pemilik modal untuk suatu tujuan yang tidak jauh dari masalah kekuasaan. Berita sekarang, sedikit banyak condong kepada suatu pihak tertentu. Hasilnya, masyarakat diombang – ambingkan dengan fakta – fakta yang masih ternodai kiasan manis. Kebenaran bukan lagi hukum pertama yang dipegang oleh media. Siapa pimpinannya lah yang menjadi suara yang didengar. Fokus pembahasan saya disini adalah mengenai kebebasan pers yang benar – benar bebas. Bukan bebas yang sebebas – bebasnya. Media seharusnya mampu memfilter berita – berita yang memang seharusnya dihidangkan pada masyarakat luas. Menurut saya, akhir – akhir ini sulit sekali mendapati media yang netral, yang tidak menyinggung satu sama lain, yang tidak merugikan satu pihak tertentu.

Pers dalam pandangan saya adalah sarana bagi masyarakat untuk bisa menerima berita – berita yang informatif, bukan hanya berita provokatif yang sedikit banyak mengundang pertikaian dalam masyarakat itu sendiri. Sulit memang menebak respon dari masyarakat. Apakah masyarakat itu akan pro atau kontra, apakah masyarakat itu mampu menangkap berita dengan benar, apakah masyarakat itu mampu menanggapi berita dengan bertanggungjawab. Who knows? Tidak ada yang tahu sebelum berita itu tersebar luas. Namun alangkah baiknya jika berita itu disusun se-netral mungkin, sehingga peluang untuk adanya adu argumen di kalangan masyarakat juga dapat terkontrol. Saya sering baca berita melalui ponsel saya. Dan saya selalu asik membaca komentar – komentar netizen dari berita yang saya baca. And guess what! Banyak masyarakat yang beradu argumen yang sebenarnya tidak harus mereka perdebatkan. Hingga akhirnya muncul perselisihan, saling menghina, dan sederet hate speech lainnya.

Media merupakan sarana masyarakat untuk bisa mengakses informasi. Tentu saja informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu, media diharapkan tidak hanya menyajikan informasi tapi juga membuat masyarakat itu paham, menjadi cerdas, bukan saling ngotot mempertahankan persepsinya masing – masing. Masalah kebebasan pers ini memang sudah sering disebutkan di beberapa aturan negara. Salah satunya adalah UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Dengan peraturan perundangan tersebut, pers akhirnya mampu bersuara dengan bebas. Tetapi kebebasan itu rasanya masih perlu diarahkan menuju sikap yang tanggungjawab juga. Bisa dilihat beberapa hari yang lalu media dihebohkan dengan berbagai hoax. Boleh – boleh saja beropini di media, tapi kebenaran harus tetap diutamakan. Karena ketika berita itu menyebar, bukan hanya masalah satu dua orang saja tapi masyarakat luas yang menjadi korbannya. Saya dengar website – website yang menyajikan hoax tersebut memang bukan website yang resmi, namun meski begitu informasi di dalamnya tetap saja sempat membuat masyarakat memanas.

Jadi kesimpulan dari ocehan saya kali ini adalah if you want to speak up on the mass media, please be honest. Masyarakat butuh berita yang informatif dan benar, yang tanpa mengedepankan kehebohan semata. Karena bagaimanapun pers memiliki tujuan yang tidak hanya sebagai sarana informasi tapi juga sarana pemersatu bangsa. Sekian bentuk perayaan Hari Pers Nasional dan Hari Wartawan Indonesia dari saya. Yuk, sama – sama kita bangun pers Indonesia menjadi lebih baik lagi. Okay, that’s it. See you on the next post!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s