Another Story

I Hate People

Hi! Welcome back di blognya Renita. Mungkin judul yang saya pake ini rada aneh sih. But just read it haha. Manusia.. Manusia.. Manusia.. Entah berapa juta manusia yang ada di dunia ini. Sebenarnya saya nulis ini sebagai bentuk curhat aja sih tentang bagaimana saya sebagai manusia menanggapi manusia. How can introvert socialize with others? Itu yang akan jadi topik pembahasan dalam post kali ini.

Jujur saya adalah orang yang introvertnya tingkat dewa. Saya masih suka diem di kamar seharian, masih suka males ngangkat telfon, masih suka males balesin chat, masih suka diem dan mikir daripada ngomong, masih kaku, masih benci keramaian, masih suka keluar kalo penting penting doang, masih suka menyendiri, masih nggak paham saat orang bilang bahwa ngumpul ketawa ketiwi doang itu perlu, masih males mengekspresikan perasaan, masih nggak suka basa – basi, masih ngomong apa adanya. Yep, itulah saya. An introvert girl. You know,  being introvert is really hard for me. Karena banyak diantara orang – orang disekitar saya nggak bisa terima sama sikap saya. Akhirnya mereka menyingkir satu per satu.

Menjadi seorang introvert bukan berarti kami nggak bisa bersosial atau nggak mau kenal orang. Kami mau, tapi butuh waktu. Saya pribadi bukan tipe orang yang gampang percaya sama orang lain. Saya sadar itu hal yang bikin saya susah untuk punya banyak temen. Jujur saya pernah nggak percaya dengan ikatan bernama pertemanan. Karena bagi saya it can be fake, right? Karena itu judul post ini seperti diatas. Saya pun pernah ada di posisi itu. Hal itu terjadi saat saya di bangku SMA, waktu dimana sering orang bilang masa – masa indah jadi remaja. Yang nggak terjadi di hidup saya. Ketika saya menjadi the real me (yang kaku, yang ngomongnya irit, yang nggak basa basi, yang suka mengkritik, yang suka langsung pulang ke rumah) ini kurang bisa diterima ternyata. Mereka nggak langsung ngomong, tapi mereka menyingkir perlahan, membuat lingkaran pertemanan baru yang tidak ada saya didalamnya. Bagi saya itu memang kebebasan mereka. Mereka pun juga tidak ada kewajiban untuk memasukkan saya didalamnya. Saya mikir buat apa juga saya tetep pertahanin pertemanan semacam itu. Akhirnya saya menarik diri lagi. Jatuhnya saya jadi males untuk bersosialisasi. Kenapa? Karena mereka nggak bisa memandang saya sebagai apa adanya saya. Mereka lebih suka berteman dengan yang ekstrovert, yang easy-going, yang kalo mau apa bisa langsung ngomong, yang nggak risih jadi pusat perhatian, yang pinter ngolah kalimat supaya lebih enak diterima telinga. Tapi saya nggak bisa. Saya adalah saya. Saya yang lebih suka ngomongin hal yang bisa buat saya mikir atau at least bisa buat saya sadar tentang suatu hal. Saya butuh waktu untuk bisa buka diri. Entah bagaimana tapi saya harus merasa nyaman dulu dengan orang itu baru saya bisa ngobrolin apapun, which is itu nggak mudah. Sebelum saya merasa nyaman mereka sudah menjauh dan mencari pertemanan yang lain. FYI, saya pernah nyoba ikutan semacam tes personality gitu. Tes itu berdasarkan research dari Isabel Briggs Myers sejak tahun 1940, namanya MBTI (Myers-Briggs Type Indicator).

result

Dan ternyata I’m an INTJ. Dari yang saya baca INTJ itu yang paling rare. Populasinya cuma sekitar 1-2% dari populasi. Kalian bisa bayangin betapa sedikitnya orang yang punya pola pikir kayak saya. Saya jadi mikir bahwa itu salah satu alasan kenapa saya merasa bahwa apa yang saya pikirin selalu bentrok dengan pendapat mereka. Dan sialnya saya kalo ngomong sering nggak mikirin perasaan orang lain. Entah orang lain mau setuju sama saya atau nggak, saya bodo amat. Saat itulah kesan bahwa saya terlalu kaku, terlalu arogan, terlalu dingin, dan lain sebagainya muncul. Kemudian mereka nggak bisa terima dan hubungan pertemanan itupun mulai pudar. Lingkaran pertemanan yang menurut saya paling nyaman adalah teman – teman SMP saya. Saat kami belum sepenuhnya dewasa untuk ngomongin kekurangan orang lain (nge-gosip). Saat ketemuan ngumpul itu nggak cuma ketawa ketiwi aja tapi ada hal yang didiskusiin. Saat saya ngomongin hal yang berat mereka bisa nanggepin dan kasih pendapat menurut perspektif mereka. Saat pertemanan kami begitu mudah tanpa gengsi dan bisa saling ngerti. Saat saya bisa menjadi diri saya sendiri dan mereka bisa menerima hal itu. Mereka nggak ngejauhin saya. Mereka tetep merasa bahwa mereka temen saya. Pertemanan yang nggak mengharuskan saya menjadi orang lain.

Sampai akhirnya saya pindah kota untuk kuliah. Di universitas saya, sedikit banget mahasiswa baru yang datang dari SMA saya, which is saya mikirnya akan ketemu banyak orang baru dan bisa memulai pertemanan dengan mereka terlepas dari sifat ke-introvert-an saya. Saya berharap bisa ketemu orang – orang yang lebih dewasa dari temen – temen SMA saya, yang nggak tersinggung kalo saya ngomong to the point, yang nggak nyuruh saya untuk selalu ikutan kumpul supaya diterima dalam sebuah komunitas, yang bisa terima bahwa saya bukan tipe cewek yang gampang mengekspresikan perasaan saya. Tapi nyatanya hal yang sama terjadi lagi. Awalnya mereka welcome, tapi pada akhirnya mereka mulai pergi. Yang mau jadi fokus sebenarnya kali ini adalah sikap mereka. Apa mereka nggak bisa untuk nerima orang lain dengan perbedaannya? Apa mereka nggak mikir bahwa orang – orang introvert seperti kami juga ingin bersosial? Apa mereka nggak bisa untuk menerima kami dengan segala pernik ke-introvert-an kami? Kenapa saya nulis ini, karena seringkali kami sebagai introvert harus belajar hidup seperti ekstrovert untuk bisa diterima.

Sebenarnya saya tidak ingin meenyudutkan siapapun. Tapi cobalah untuk menerima perbedaan itu. Karena perbedaan bukan hanya terbatas pada SARA. Pola pikir, sikap, dan cara bersosial setiap orang juga berbeda. Lagipula sebegitu tidak inginnya dikritik hanya akan membatasi kemampuan diri sendiri. Let be the wise person, guys!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s