Short Story

Man for Second Time

Laki – laki itu melempar name-tagnya sembarangan di meja kerja yang berada di pojok kamarnya. Ditambah lagi ingatan mengenai gadis itu. Tunggu. Tiba – tiba ia mengingatnya. Ia melemparkan pandangan keluar melalui jendela didepan meja kerjanya. Tatapannya tidak kosong. Ada gadis itu disana. Di khayalannya. Tiba – tiba ingatannya kembali ke beberapa tahun lalu. Laki – laki itu kemudian bangkit dan berjalan kearah ranjang. Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur yang terasa masih begitu dingin karena terlalu lama ditinggal pemiliknya. Tidak butuh waktu lama ia tertidur masih dengan kemeja kerja yang belum sempat ia ganti. Mungkin karena laki – laki itu sudah terlalu lelah. Sudah dua malam pula ia tidak pulang ke rumah.***

Matahari pagi menyembur melalui jendela yang tadi malam tidak tertutup. Hal itu membuatnya harus membuka mata. Laki – laki itu mengucek matanya sebentar kemudian terduduk di ranjang. Ia mengamati sekeliling kamarnya. Mencoba menyelaraskan penglihatan dan otaknya di pagi hari seperti ini. Selanjutnya ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Akhirnya ia siap dengan kemeja putih dengan lengan yang ia gulung hingga siku yang sepertinya terlihat serasi dengan warna kulit cerah laki – laki itu. Kemeja putih itu ia padu dengan celana hitam dan sepatu vantovel dengan warna hitam pula. Ia mengambil jam tangan dan memasangnya di tangan kiri. Tak lupa juga dengan name-tagnya.

***

“Pagi, Pak.”, sapa salah satu junior laki – laki itu ketika ia sampai di kantornya.

“Pagi.”, jawabnya singkat.

“Pagi Raka! Tumben berangkat dari rumah? Biasanya nginep di kantor mulu.”, sapa Wisnu yang merupakan teman Raka ketika mereka bertemu dan berjalan bersama ke ruangan mereka masing – masing.

“Kalo nggak ada kerjaan gue nggak nginep sini juga.”

“Kerja terus, kapan cari jodohnya?”

“Jangan mulai deh!”

“Oh ya denger – denger ada karyawan baru hari ini. Cewek lagi. Bagian editing katanya. Buruan diambil.”

“Disini kerja. Bukan gosip.”

***

Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Sebentar lagi istirahat untuk makan siang. Belum saja Raka menyelesaikan pekerjaannya agar bisa makan siang, beberapa orang masuk kedalam ruang reporter dan menginterupsi waktu kerjanya. Tapi laki – laki itu sepertinya tidak cukup terganggu karena ia terus saja menatap layar komputernya seraya mendengar sayup – sayup suara atasannya itu.

“Siang semuanya.”, sapa atasan Raka saat ia masuk kedalam ruangan tempat Raka sedang duduk di sudut kirinya.

“Siang, Pak.”, sahut beberapa orang yang berada di ruangan itu.

“Saya akan kenalkan satu orang karyawan baru yang mulai hari ini ia akan bekerjasama dengan kalian juga.”

“Perkenalkan nama saya Reina Adelia. Saya editor baru disini. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik. Mohon bantuan semuanya.”, suara gadis yang tadinya diperkenalkan sebagai karyawan baru, akhirnya menggema sampai di telinga Raka. Laki – laki itu mengenalinya. Ia mengenali suara itu sekaligus dengan nama yang disebutkan tadi. Tangannya yang sedang menggerak – gerakkan mause tiba – tiba terhenti. Ia terpaku sejenak di depan layar komputernya. Ia perlahan menoleh kearah sumber suara dan terkesiap melihat pemilik suara itu. Dia adalah gadis yang dikenalnya. Gadis yang telah lama pergi namun masih meninggalkan rasa. Raka menatapnya tajam. Tiba – tiba mata mereka bertemu. Reina menunjukkan ekspresi sama terkejutnya dengan reaksi Raka.

***

Jam makan siang pun akhirnya tiba. Raka mematikan komputernya dan beranjak dari tempat duduk. Belum saja ia Raka keluar dari ruangan, seseorang berlari ke arahnya. Wisnu. Laki – laki itu tampak begitu tergesa – gesa.

“Ka. Karyawan barunya udah datang?”, tanya Wisnu dengan napas masih tersengal – sengal.

“Udah.”, jawab Raka singkat.

“Lo udah tahu dong siapa?”

“Udah.”

“Kayaknya gue salah deh rekomendasiin dia ke lo.”

“Ikut ke kantin?”, tanya Raka mengalihkan pembicaraan.

“Lo yang ngajak, lo yang traktir.”

“Gitu terus.”

Sesampainya mereka di kantin, mereka memesan makanan masing – masing dan segera duduk di kursi – kursi kantin. Di seberang sana ada seseorang yang begitu dikenal Raka sekaligus mengenal laki – laki itu dengan baik. Reina Adelia. Suara itu seketika menggema di telinganya saat ia melihat sosok di seberang. Reina ada disana. Duduk dengan beberapa karyawati dan tampak mengobrol asyik. Reina memang dikenal sebagai orang yang mudah bergaul. Senyum itu. Raka melihat senyum diantara geraian rambut panjang yang gadis itu miliki. Hatinya tiba – tiba berdesir melihatnya. Sudah sekian lama ia tidak mendapati pemandangan semenyejukkan ini. Wisnu menatap Raka yang mulai tidak fokus pada pembicaraan mereka sebelumnya. Ia mengikuti kemana arah pandang laki – laki itu.

“Jadi belum bisa move on juga?”, tanya Wisnu yang berhasil mendapatkan perhatian Raka kembali. Raka hanya terdiam. “Ka. Lo itu orang yang cuek, nggak peka, dan nggak perhatian. Kalo Reina itu cewek baik – baik, dia cuma butuh tiga hal itu. Itu udah cukup. Sedangkan lo nggak bisa kasih itu ke dia. Makanya kalian putus. Lo nggak pernah cerita kenapa lo putus ke gue, tapi gue jamin alasan yang gue utarakan barusan bener kan?”, Raka lagi – lagi terdiam. Apa itu memang alasannya? “Tuh kan diam.”

“Gue diam karena gue nggak tahu itu bener atau nggak. Gue nggak pernah cerita karena memang dia nggak pernah kasih tahu alasannya. Lalu apa yang mau gue ceritakan?”

***

Siang ini Raka sedang mencari tempat duduk di kantin kantor setelah memesan makan siangnya. Tapi disana ia menemukan seseorang yang ingin ia temui. Sejak dua tahun yang lalu. Reina, gadis itu duduk sendiri di salah satu bangku kantin. Tak sadar Raka melangkahkan kakinya menuju gadis berambut panjang itu.

“Hai. Boleh duduk disini?”, tanya Raka saat sampai dihadapan Reina. Gadis itu sendiri tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya ketika melihat Raka.

“Duduk aja.”, Raka akhirnya duduk di hadapan gadis itu. Selanjutnya yang terdengar hanya keheningan. Reina hanya tertunduk memainkan jemarinya hingga seorang pelayan datang membawa pesanan milik mereka berdua.

“Apa kabar, Rei?”, tanya Raka sesaat sebelum Reina menyantap nasi gorengnya.

“Baik. Mas Raka gimana?”

“Saya baik juga.”

“Syukurlah.”, terjadi keheningan kembali. Semua terasa begitu kaku saat ini.

“Kamu setelah putus dari saya, ada yang lain?”, tanya Raka yang terasa tiba – tiba berhasil membuat sendok yang dipegang Reina berhenti di udara. Akhirnya gadis itu meletakkan kembali sendoknya yang menatap Raka lekat.

“Saya bukan urusan Mas Raka lagi.”, sahutan Reina sebagai penutup. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya menyantap makan siang.

“Kalo saya lagi, apa nggak bisa?”, tanya Raka yang lagi – lagi menginterupsi aktivitas Reina. Reina menatap Raka lekat – lekat seakan menanyakan apa pendengarannya benar masih baik – baik saja. “Kalo saya lagi apa nggak bisa, Rei?”

“Kenapa harus kamu?”

“Kenapa nggak? Dua tahun lalu kamu nggak kasih alasan kenapa kamu mau putus dari saya. Salah kalau saya minta kita balikan lagi?”

“Dua tahun ternyata belum cukup untuk kamu bisa belajar ya, Mas?”

“Hubungan itu yang paling penting komunikasi. Setidaknya bilang sama saya supaya saya tahu apa mau kamu, Rei.”

“Saya harus balik ke ruangan.”, Reina akhirnya meninggalkan Raka sendirian. Laki – laki itu juga tidak menahan Reina. Raka menghembuskan nafas berat. Ia merasa gagal untuk memperbaiki segalanya.

***

Reina terduduk di kursi dibalik meja kerjanya. Ia membolak – balik beberapa lembar berita. Sesekalinya ia menatap layar monitornya dan menggerak – gerakkan mouse dengan tangannya. Ponsel yang ia letakkan di samping kiri monitornya bergetar sebentar yang menandakan ada satu pesan masuk. Ia meraih ponsel itu dari meja kemudian mengecek pesan yang masuk.

O’house Cafe. Jam 8 malam. Saya harap kamu datang.’, pesan itu dari Raka.

Gadis itu sejenak ragu. Harus mengiyakan atau menolak. Hatinya pun bimbang. Ia ternyata tidak mampu menolak gejolak gembira akan ajakan laki – laki itu.

***

Terdengar suara heels yang menyentuh ubin dengan begitu kentara. Kaki yang menghentakkannya terus melaju searah kemana hatinya ingin pergi. Sebuah cafe dengan design Eropa di tengah kota metropolitan itu seakan menariknya untuk tetap masuk. Astaga semua partikel dalam dunia ini mendukung hatinya. Tapi sayang rupanya ia masih bergulat dengan otaknya yang selalu berlogika. “Kali ini saja. Kali ini saja.”, perintahnya dalam hati. Akhirnya gadis itu masuk kedalam dan mencari satu sosok yang seakan masih begitu ingin ia lihat. Manik mata gadis itu mengitari sekelilingnya. Laki – laki yang ingin dilihatnya tidak ada disini. Salahkah tujuan dari langkah kakinya? Atau keputusannya yang salah? Entahlah tapi ia tetap duduk disatu bangku disana. Lima belas menit. Setengah jam. Satu jam. Dua jam. Waktu terus berjalan tapi ia tetap duduk sendiri disana. Gadis itupun mulai beranjak dari tempat duduknya. Karena menunggu memang membosankan, bukan?

Baru saja kakinya melangkah sampai di teras cafe, laki – laki itu datang dengan nafas tersengal – sengal seperti orang yang telah berlari puluhan kilometer.

“Rei, maaf.”, ujar laki – laki itu pertama kali saat mereka bertemu. Reina hanya mampu menghembuskan nafasnya berat. “Saya minta maaf, Rei.”

“Kenapa?”, tanya Reina.

“Saya ada…”

“Ada berita harus kamu kejar, Mas?”, tebak Reina.

“Maaf.”, jawab Raka merasa bersalah.

“Kamu masih sama ya, Mas.”

“Rei.”

“Saya mau pulang.”

“Tunggu. Kita ngobrol baik – baik.”, ujar Raka seraya menarik tangan gadis itu. Namun nyatanya Reina tetap pergi, tak menghiraukan perkataan Raka sedikitpun.

***

Ponselnya terus saja bergetar menandakan ada panggilan masuk disana. Nama laki – laki itu. Nama yang tidak pernah ia hapus bahkan dari memorinya sekalipun. Satu getaran. Dua getaran. Tiga getaran. Empat getaran. Lima getaran. Gadis itu meraih ponselnya dari tas dan menerima panggilan itu.

“Awalnya saya nggak mau angkat, tapi akhirnya saya angkat juga. Tembok saya gampang banget runtuhnya ya, Mas.”, ujar Reina dengan suara sedikit bergetar.

“Rei, saya minta maaf. Ayo kita ngobrol dulu.”

“Saya nggak bisa.”

“Saya minta maaf, Reina. Saya benar – benar minta maaf.”, suara laki – laki di ujung sana juga terdengar sama bergetarnya.

“Maaf. Kamu ulangi lagi. Maaf, kamu ulangi lagi. Sebegitu mudahnya kamu bilang maaf, Mas?”

“Maaf.”

“Maaf lagi! Berhenti ngomong maaf, Mas!”, ucap Reina dengan setengah berteriak ditengah emosinya yang memuncak.

“Lalu saya harus ngomong apa, Rei?”, ucap Raka gusar.

“Say ‘I love you’!”, potong Reina. Raka sontak kaget mendengar jawaban gadis itu. “Sejak kita mulai tiga tahun lalu, you never said those thing, Mas. Now, say it!”, Raka terdiam diujung sana. Tidak ada lagi gelombang yang mengalirkan suara melalui ponsel itu. Dengan kesal Reina menutup sambungan. Ia marah sekaligus lelah. Butir demi butir air menetes lagi dan dengan alasan yang sama lagi. Tak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar singkat. Ia meraih ponsel itu lagi dan membaca pesan yang masuk. ‘Keluar sebentar ya, Rei. Kita obrolin. Sebentar aja.’ Gadis itu mengabaikannya. Ia memandang keluar melalui jendela kamarnya. Disana sedang hujan, yangmana artinya laki – laki itu pasti telah basah kuyup. Lagi – lagi gadis itu mengabaikannya. Ponselnya terus bergetar. Tapi tak satupun panggilan itu diterimanya. Gadis itu akhirnya mulai beranjak dari ranjang yang dari tadi telah ia duduki. Ia melangkah keluar kamar dan mengambil payung di sudut ruang tamu. Kemudian ia keluar rumah. Masih ada laki – laki itu, sedang memandangnya dengan tatapan memohon. Reina berhenti di balik pagar rumahnya. Ia menatap Raka tepat di manik mata laki – laki itu. Lama. Laki – laki itu juga tampaknya sungkan untuk bersuara terlebih dahulu. Reina menyentuh tangan Raka yang terasa begitu dingin akibat guyuran air hujan dan ia menyerahkan payung yang tadi dipakainya kepada laki – laki itu.

“Pulang.”, ucap Reina singkat dan gadis itu langsung berlalu, masuk kembali ke dalam rumahnya.

***

Sore ini rasanya menjadi sore yang begitu memberatkan bagi Reina. Di depan kantor telah ada laki – laki itu yang berdiri disamping mobilnya. Menunggu gadis itu mungkin. Dua insan itupun akhirnya bertukar pandang. Reina tetap berjalan dan beniat menghindar begitu Raka menghadang jalannya.

“Saya antar kamu pulang, ya.”

“Saya bisa pulang sendiri.”

“Rei.”

Sial. Reina melihatnya. Ia melihat mata laki – laki itu. Mata yang membuatnya mengiyakan yang tidak, memperbolehkan yang tidak bahkan memaklumkan yang tidak. Akhirnya disinilah gadis itu sekarang, duduk disamping laki – laki yang sedang mengendalikan kemudi itu.

“Rei.”, panggil Raka pelan namun tak mendapat sahutan dari gadis disebelahnya itu. “Saya minta maaf untuk kemarin. Saya nggak maksud ninggalin kamu.”, lagi – lagi Raka seperti berbicara dengan dirinya sendiri. “Reinaaa.”, panggil laki – laki itu mulai gusar, tapi sayang gadis disebelahnya ini tetap saja membisu. “Ada pekerjaan yang benar – benar harus saya atasi, Rei. Saya tahu saya salah. Saya murni minta maaf, Rei.”, tak terdengar juga suara perempuan berbicara disana hingga mobil tersebut berhenti di depan sebuah rumah. Rumah Reina. Gadis itu segera keluar dari mobil. Raka pun tak kalah cepatnya untuk keluar dan masih berusaha berbicara dengan Reina.

“Mas, udah sampai disini aja ya. Kita selesai sampai disini aja ya.”, ujar Reina yang akhirnya mau membuka mulut. Gadis itu hendak beranjak ketika Raka menahan pergelangan tangannya.

“Selesai? Dua tahun yang lalu kamu juga bilang hal yang sama, Rei. Selesai. Lalu kamu pergi entah kemana dan nggak pernah beri saya alasan kenapa kamu minta selesai. Rei, omongin bareng – bareng. Saya bukan peramal yang bisa langsung tahu apa mau kamu.”

“Saya capek. Saya capek selalu ngikutin hidup kamu. Saya capek harus selalu ngalah sama pekerjaan kamu. Mas, saya itu manusia. Saya juga butuh ngerasa kamu perhatikan, kamu utamakan. Saya bukan angin, Mas. Yang bisa terus ada tanpa pernah dipedulikan.”, ujar Reina.

“Tapi saya nggak pernah bermaksud menomorduakan kamu, Reinaaa”

“Mas, udah ya. Saya capek bertengkar sama kamu kayak gini.”, Reina menghela napas dalam. “Udah ya.”, ujarnya kemudian ia masuk ke dalam rumahnya.

***

Sudah seminggu Reina tidak melihat wajah Raka. Lagi – lagi karena pekerjaan laki – laki itu yang mengharuskannya pergi keluar kota untuk memburu berita. Ponsel Reina tiba – tiba bergetar dan muncul nama Raka disana.

‘Besok saya pulang. Kita ketemuan ya. Kangen, Rei.’

Reina sebenarnya tahu apa yang hatinya mau, tapi gadis itu terlalu takut untuk memulai semuanya dengan laki – laki yang sudah pernah mengecewakannya. Diseberang sana Raka terus memandangi ponselnya berharap gadis itu mau membalas meskipun hanya dengan satu kata. Tapi nyatanya tidak ada perubahan apapun dari layar ponselnya.

***

“Rei, duduk disini aja.”, ajak Raka saat melihat gadis itu kebingungan mencari tempat duduk di kantin kantor yang sedang ramai di jam makan siang seperti ini. Tapi gadis itu terus berlalu dan memilih bangku dipojok yang masih kosong juga. Sudah seminggu Raka tak melihat wajah Reina tapi sekarang setelah bertemu gadisnya malah menghindar. ‘Masmu ini harus gimana lagi sih, Rei?’’

Raka hanya mampu memandang ke arah Reina tanpa gadis itu sadari. Rasanya aneh sekali ketika gadis itu terus memutari pikirannya tapi sama sekali tidak bisa ia sentuh.

***

Dinding berwarna putih kini mengitari penglihatannya. Ia pun merasakan tubuhnya berbaring di ranjang dan merasakan suhu tubuhnya tidak setinggi beberapa jam yang lalu. Ia melihat ke sekelilingnya. Sepi. Tidak ada siapapun yang bisa ia ajak bicara. Beberapa saat kemudian sesosok laki – laki masuk.

“Udah bangun, Ka?”, tanya Wisnu.

“Kok gue bisa disini?”, tanya balik Raka.

“Lo kemarin pingsan. Ka, gue tahu lo lagi banyak pikiran tapi kalo sakit ya minum obat. Kemarin lo udah sempet sadar sih tapi demam lo masih tinggi banget. Oke, karena sekarang demam lo udah turun bahkan infus lo udah dilepas, lo bisa pulang hari ini dan istirahat di rumah.”

“Lo yang bawa gue kesini?”

“Ya siapa lagi Rakaa?”, keadaan menjadi hening sejenak. “Ehm, Ka.”, panggil Wisnu yang membuat Raka menoleh ke arahnya. “Gue denger Reina juga masuk sini tadi pagi.”

“Dia kenapa?”

“Sama kayak lo. Sakit karena patah hati.”, ujar Wisnu setengah mengejek.

“Dia di kamar berapa?”

“E5.”, seketika Raka bangkit dari ranjangnya dan meninggalkan kamar rawatnya. Sama sekali laki – laki itu tak menghiraukan Wisnu yang memanggil namanya.

***

Kamar bertuliskan “E5” itu sudah ada di hadapannya. Ia beranjak satu langkah lebih mendekat tapi tiba – tiba hatinya ragu. Akankah gadis itu akan mendengarnya? Akankah gadis itu menyusirnya untuk kesekian kali lagi? Apapun sikap gadis itu nanti, Raka tetap ingin mencoba. Dua tahun ia membiarkan Reina pergi, tanpa bertanya apapun. Tapi sekarang gadis itu ada di depan matanya. Ada dalam jangkauannya. Laki – laki itu membuka pintu. Ia sontak melihat ada seseorang sedang duduk di ranjang dengan memegang gelas berisi air putih.

“Kemarin saya juga masuk sini. Saya senang kalau kamu juga ada disini. Karena setidaknya saya nggak sakit sendirian. Setidaknya saya nggak menderita sendirian. Rei, saya minta maaf! SAYA BENAR – BENAR MINTA MAAF! Saya tahu saya salah. Tapi sebenarnya apa yang saya lakukan hanya untuk memperbaiki kualitas hidup saya. Setidaknya ada yang bisa saya tunjukkan ke ayah kamu ketika saya datang ke rumah dan minta kamu dari dia. Maaf kalau cara saya salah. Saya minta maaf.”, Raka berbalik dan hendak beranjak pergi. Tapi langkahnya terhenti ketika ia teringat ada sesuatu yang belum ia sampaikan pada gadis itu. Raka pun berbalik kembali menghadap Reina. Mata kedua insan itupun bertemu. Raka menatap lekat kedua mata Reina.

“I love you. Maaf kalau saya bukan tipe laki – laki yang bisa mengatakan kalimat itu setiap hari. Maaf kalau saya terlalu kaku. But I love you.”, Setelah menyelesaikan kalimatnya Raka berbalik dan beranjak pergi dari kamar Reina. Namun ketika ia meraih gagang pintu, ada sesuatu melingkari pinggangnya. Tangan gadis itu. Ia tidak sedang berkhayal tapi gadis itu benar – benar memeluknya dari belakang. Suasana menjadi hening sejenak. Raka hanya memejamkan matanya. Merasakan kehangatan yang gadis itu berikan. Kali ini biarlah hanya dia yang menerima. Menerima sebanyak – banyaknya.

Raka akhirnya membuka mata dan berbalik ke hadapan gadis itu. Ia tersenyum. Senyum paling lega yang pernah laki – laki itu buat.

“Butuh waktu dua tahun ya, Mas buat bikin kamu ngomong kalimat itu.”, ujar Reina yang kemudian tersenyum. “Trus sekarang, kapan kamu mau ketemu ayah?”, keduanya tertawa mendengar pertanyaan yang dilontarkan Reina.

“Sekarang. Ayah kamu kesini kan?”, tanya Raka sambil tersenyum jahil.

“Disini? Gila kamu ya, Mas.”, sahut Reina dan Raka hanya membalas dengan pelukan hangat.

“All you have to do is… Jangan kayak gini lagi ya, Rei. Obrolin bareng – bareng. Masmu ini nggak selalu tahu apa mau kamu.”

Sejatinya hubungan landasannya komunikasi. Bukan hanya satu arah tapi butuh komunikasi dua arah. Bukan hanya menerima tapi juga memberi informasi. Hubungan juga butuh diperjuangkan. Bukan hanya mengalir kemudian hanyut dan putus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s