Another Story

Ujian Nasional is Over

Hi! Welcome back di blognya Renita. Ujian nasional akhirnya selesai!!! Seneng? Sekidit sih 😀 Oke let me tell you something. Ujian Nasional di Indonesia masih saja bagaikan hantu yang bergentayangan. Kita dituntut untuk gila se-gila Albert Einstein saat ujian Fisika. Kita diajak mengarungi sastra layaknya Armijn Pane saat ujian Bahasa Indonesia. Kita digandeng oleh bayangan Marie Curie atau Arrhenius saat ujian Kimia. Kita dikejar oleh ingatan Charles Darwin untuk ujian Biologi. Kita diterbangkan menuju bahasa milik Buckingham Palace saat ujian Bahasa Inggris. Kita digiring untuk sejenius al – Khawarizmi atau John Napier saat ujian Matematika. Siapa yang betah? Siapa yang tidak tertekan?

Kita adalah satu orang, tapi kita dituntut untuk seperti setidaknya enam orang diatas. Setiap orang memiliki kecerdasaanya masing – masing. Tidak semua pintar sastra, tidak semua pintar kimia, tidak semua jago fisika. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh seseorang yang dikenal sebagai ilmuwan fisika terhebat abad 20, seorang yang pernah mengidap disleksia, Albert Einstein mengatakan bahwa “Semua orang adalah jenius. Tapi jika anda menyalahkan ikan-ikan karena mereka tidak bisa memanjat pohon dan itu menjadi kepercayaan seumur hidup maka itulah yang dinamakan bodoh.”

Bukan maksud untuk menyalahkan pemerintah dalam hal ini. Namun hingga sekarang, ujian nasional masih layaknya monster yang ditakuti kebanyakan siswa. Lagi – lagi mereka takut akan nilai. Sebuah angka yang bisa dimanipulasi oleh siapapun. Sekarang’mereka’ mengabarkan bahwa ujian nasional bukan penentu kelulusan seseorang. ‘Mereka’ berharap dengan adanya informasi tersebut siswa menjadi tenang dan tidak lagi memprioritaskan nilai. Tidak menjadi penentu kelulusan tapi jadi pertimbangan seleksi masuk PTN, what kind of joke it is.

Mau tidak mau ujian pun lagi – lagi dengan nilai. Lalu apa masih tidak diperbolehkan jika mengatakan bahwa bibit – bibit ketidakjujuran itu berawal dari bangku sekolah? Kita tidak dididik untuk jujur, tapi kita dididik untuk takut hanya pada angka. Kita dituntut untuk jadi sempurna dalam segala subjek.

Di waktu – waktu mendekati ujian, orang – orang yang sering menggembor – gemborkan tentang kejujuran dilihat sebagai sosok yang munafik, sok alim, nggak realistis. Memang munafik, karena setiap orang pasti pernah berbohong.. Tapi untuk halnya ujian, itu prinsip, bukan kemunafikan. Siapa yang tidak kesal saat harus belajar siang malam sedangkan teman – temannya yang lain hanya jalan – jalan dan tidur nyenyak dan saat ujian tinggal mengandalkan kunci jawaban. Saya dan teman – teman yang pure dalam ujian juga punya hati. Kami juga butuh dihargai atas kerja keras kami belajar siang malam.

Kami juga takut gagal. Semuanya sama. Pundak kami juga memikul harapan besar orang tua kami. Kami juga punya mimpi besar yang menunggu untuk menjadi nyata. Jujur saya hanya kecewa. Kita masuk sekolah bersama, tapi kenapa kita tidak bisa untuk bersih bersama?

Sebenarnya masalah jujur atau tidak itu pilihan masing – masing. But trust me, honesty is a another word of trust. Kita akan dipercaya saat kita jujur. That’s all. I think I have a lot of speech today, but I feel better after expressing my feeling here 😀 Enjoy your Ujian Nasional’s result 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s