Short Story

Tidak Ada Jawaban Untuk ‘Kenapa’-mu

 

 

Hari sudah semakin sore namun hujan masih saja deras dan tak kunjung mereda. Dengan keadaan seperti itu ia hanya mampu duduk termenung di depan gedung kampusnya. Tidak ada payung. Tidak ada jas hujan. Dia harus menunggu hujan reda jika ingin pulang tanpa basah kuyup. Saat ia mengerutuki dirinya sendiri yang lupa tidak membawa payung, tiba – tiba ia dikagetkan oleh kehadiran seseorang yang langsung saja duduk di sebelah gadis itu.

“Kok belum pulang?”, tanya seorang laki – laki sesaat setelah duduk di samping gadis itu.

“Masih hujan, Mas.”, jawab gadis itu singkat.

“Maba ya?”

“Iya Mas.”

“Fakultas apa?”

“Kedokteran Mas.”

“Oh calon dokter. Nih.”, ujar laki – laki itu seraya menyodorkan sebuah payung.

“Nggak usah, Mas. Saya nunggu reda aja.”, ucap gadis itu.

“Nggak apa – apa. Besok masih ospek. Yakin mau nggak masuk?”, kata laki – laki itu lalu meletakkan payung pada pangkuan gadis itu. “Damar”, ucapnya kemudian mengulurkan tangan kanannya pada gadis itu.

“Rara.”, gadis itu pun menyambut uluran tangan.

“See you.”, Damar kemudian berdiri dan lari menerjang hujan. Rara berhasil dibuat bingung dengan laki – laki itu. Ia masih saja memandang Damar hingga laki – laki itu hilang dibalik derasnya hujan.

***

Damar akhirnya berhenti di sebuah rumah bercat putih dengan taman di bagian halaman. Ia ragu untuk memasukinya. Karena memang tidak ada apapun di dalam sana. Ia merasa sepi. Lebih baik malah disini. Setidaknya ada suara hujan yang mengusir kesepiannya. Namun mengingat bajunya yang telah basah kuyup, ia segera masuk ke dalam rumahnya.

“Den, kok basah kuyup begitu. Bukannya tadi sudah Bibi bawakan payung?”, tanya seorang wanita berumur 40-an yang tiba – tiba muncul dari dalam rumah.

“Dipake orang, Bi.”, jawab Damar singkat.

“Kok bisa? Tapi sudah – sudah, Aden cepat ganti baju. Nanti sakit lo. Bibi siapin minuman hangat ya Den.”

“Makasih ya, Bi. Oh ya Mama sama Papa mana?”, tanya Damar.

“Kan biasanya Bapak sama Ibu pulangnya malam Den.”

“Yaudah Bi. Saya ke kamar dulu.”

Selalu seperti itu. Entah berapa menit yang sanggup orang tua Damar habiskan untuk sekedar berbicara dengan anak semata wayangnya itu. Bukan. Damar bukannya kecewa dengan keadaan seperti itu. Ia justru senang karena orang tuanya jarang di rumah. Bisa dibilang ia benci dengan keadaan rumah yang sepi tapi sayang ia lebih benci ketika melihat orang tuanya yang berakibat mengingatkannya kembali pada masa lalunya bersama dua orang yang sering disebutnya orang tua itu.

***

Sudah lima belas menit Rara mengitari jalanan sekitar gedung kampusnya untuk mencari Damar. Namun sosok laki – laki itu tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Ia pun terus berjalan hingga sampai di gedung fakultas teknik. Hampir saja ia menyerah sesaat sebelum menemukan dua sosok di seberang yang sangat ia yakini salah satunya adalah Damar. Memang baru sekali gadis itu bertemu dengan Damar, tapi ingatannya benar – benar tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Mas Damar!”, sahut Rara yang mampu menghentikan langkah dua orang tadi. Rara pun segera menghampiri mereka.

“Siapa Mar?”, tanya seorang laki – laki yang berada di samping Damar.

“Anak baru.”

“Wiihhh selera lo maba ternyata.”

“Apaan sih! Udah sana duluan aja.”, tepat saat laki – laki itu pergi, Rara tiba dihadapan Damar.

“Ada apa?”, tanya Damar.

“Mau balikin payung, Mas. Terimakasih ya.”, ujar gadis itu seraya menyerahkan payung pada Damar. “Tapi ngomong – ngomong, kenapa payungnya dikasih ke saya, Mas? Mas Damar sendiri malah kehujanan.”

“Nggak apa – apa”, jawab Damar singkat.

“Yaudah kalau gitu. Saya pulang dulu, Mas.”, pamit Rara.

“Ra.”, belum sempat gadis itu berbalik, Damar sudah memanggilnya sehingga membuat Rara mengurungkan niat untuk meninggalkan laki – laki itu.

“Kenapa, Mas?”

“Masih ada kelas?”

“Nggak ada.”

“Udah… makan siang?”, tanya Damar ragu.

“Belum.”, jawab Rara dan seketika Damar tidak bisa menyembunyikan senyum kecilnya.

“Ke kantin gimana?”

“Boleh, Mas.”, jawab Rara yang entah bagaimana membuat Damar lega.

Sesampainya di kantin mereka duduk bersebelahan dan memesan makanan masing – masing. Sejak makan siang hari itu, hubungan Rara dan Damar pun semakin dekat. Berkali – kali Damar menjadi payung bagi Rara namun laki – laki itu tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan ‘kenapa’ milik Rara.

***

Rara terus melangkah di koridor gedung fakultas teknik. Ia mencari seseorang. Seseorang yang telah mengisi hari – harinya selama sebulan terakhir. Siapa lagi jika bukan laki – laki itu. Laki – laki yang selalu memberinya payung saat hujan, tapi tidak pernah mau menyebutkan alasannya. Akhirnya ia sampai juga di ruang kelas Damar. Ada satu orang yang sedang berdiri di dekat pintu dengan headset menempel pada telinga. Rara pun mengambil alih perhatiannya. Sontak ia melepas headset dari telinganya.

“Mas, Mas Damar ada?”, tanya Rara pada seseorang di pintu itu.

“Rara Indriani, kan? Anak kedokteran? Pacarnya Damar?”, balas laki – laki itu ketika melihat Rara. Gadis itu pun dibuat tersenyum dengan sikapnya.

“Saya bukan pacarnya Mas Damar kok, Mas.”

“Damar Setiadi! Dicari pacarnya nih. Rara Indriani, mahasiswa tingkat I Fakultas Kedokteran.”, teriak laki – laki itu yang kemudian menggema di seisi kelas.

“Damar doyannya maba tho.” “Pantes udah tingkat II belum ada cewek yang nyantol.” “Anak kedokteran lagi.” “Kalo gue sakit suntiknya gratis ya, Mar.”, sahut beberapa teman Damar.

“Mas, kan sudah saya bilang, saya bukan pacarnya Mas Damar.”, sahut Rara dengan pipi memerah karena malu dengan reaksi teman – teman sekelas Damar. Begitupun dengan Damar. Ia dengan segera membereskan buku – bukunya dan keluar ruangan sebelum lebih banyak lagi seruan yang didengarnya.

“Dek, gue itu udah kenal Damar dari SMA, kalau Damar berani deket sama cewek itu artinya cewek itu emang diincer sama Damar. Waktu SMA dia cuma pernah deket sama satu cewek. Bahkan dari dia kuliah disini, baru lo yang deket sama Damar. Itu anak nggak akan main – main sama lo.”, jelas laki – laki itu.

“Berarti pernah ada cewek sebelum saya?”, tanya Rara dengan hati – hati. Gadis itu melihat air muka laki – laki dihadapannya itu sedikit berubah.

“Damar sendiri yang berhak cerita.”

“Diapain kamu?”, seketika Damar muncul dan memecah keheningan.

“Ck. Nggak gue apa – apain, Mar. Takut banget.”

Mereka akhirnya segera meninggalkan anak – anak yang sudah mulai ramai menyuarakan kata – kata ejekan baik bagi Damar maupun Rara. Mereka berdua berniat pergi ke cafe. Tempat kesukaan mereka yang tentunya bisa menyediakan hot chocolate untuk Rara dan cappuccino untuk Damar.

“Kamu, kenapa pengen jadi dokter?”, tanya Damar memulai pembicaraan.

“Dulu waktu saya kecil, ibu bawa saya ke rumah sakit. Trus saya lihat ada orang kecelakaan, darahnya dimana – mana. Saya takut, takut banget. Sampai – sampai saya sembunyi di balik badan ibu saya.”, Rara kemudian tertawa kecil mengingat momennya saat kecil dulu. “Tapi ibu saya bilang ‘nggak usah takut, dokternya aja nggak takut.’ Saya tanya ke ibu saya ‘kenapa dokternya nggak takut?’ ibu saya jawab ‘kalau mau bantu atau nolong orang ya kita nggak boleh takut sama orangnya. Dokter itu mulia lho, nolong banyak orang.’ Dari situ saya pengen jadi dokter. Saya pengen bantu banyak orang, dan nggak takut dengan hal semacam itu. Karena keluar dari zona nyaman, perlu kan, Mas?”, Damar kemudian tersenyum melihat uraian penjelasan dari Rara. Gadis itu lagi – lagi membuatnya kagum. Gadis itu lagi – lagi membuatnya tidak mampu bereaksi apapun selain tersenyum dengan memandangi wajah manis dihadapannya saat ini.

“Mas Damar sendiri, kenapa masuk Teknik Sipil?”, tanya Rara.

Damar menghela nafas sejenak. “Saya mau bangun rumah sakit buat kamu.”

Sontak Rara tertawa mendengar jawaban dari Damar. “Kok malah bercanda sih, Mas.”

“Saya serius loh.”

Rara kembali tertawa, “Janji?”

Damar mengangguk dengan mantap kemudian tersenyum ke arah gadis itu dan mendapat balasan yang sama manisnya dengan senyuman yang ia berikan.

“Oh iya, tadi Doni cerita apa aja sebenarnya ke kamu?”, tanya Damar yang membahas tentang seorang laki – laki di depan pintu kelasnya yang tadi berbicara dengan Rara.

“Nggak banyak, cuma cerita soal SMA nya Mas Damar.”, jawab Rara dan seketika menghentikan aktivitas Damar yang akan menyeruput cappuccinonya. Gelas itu hanya mengambang diudara, gagal berhenti di bibir Damar. “Kenapa, Mas?”, tanya Rara menyadari perubahan sikap Damar. Damar meletakkan gelas itu kembali di atas meja. Tidak minat lagi dengan isinya.

“Dia cerita soal apa?”

“Soal cewek.”

“Dia cerita apa aja? Cewek siapa? Dia cerita sejauh apa?”, tanya Damar yang bertubi – tubi membuat gadis itu bingung dengan laki – laki itu. Ditambah tatapan Damar yang berubah dari semula.

“Dia cuma cerita kalau Mas Damar waktu SMA punya cewek satu. Boleh saya tahu siapa, Mas?”

Damar menghembuskan nafas lega. Setidaknya laki – laki itu tidak mengulik lagi soal masa lalunya. Damar kemudian berdeham, “Udah sore, kita pulang yuk.”

“Saya nunggu sampai kamu siap cerita, Mas.”

***

Udara sore semakin dingin. Mendung pun kian menggulung. Damar dan Rara sesegera mungkin sampai di rumah masing – masing. Jarak cafe, kampus, dan rumah mereka sebenarnya tidak jauh tapi jika keadaannya seperti ini, bisa juga basah kuyup apabila tidak segera pulang. Damar memang selalu menjadi payung bagi Rara tapi kali ini mungkin pengecualian. Mereka berdua benar – benar tidak membawa hal apapun yang dapat melindungi mereka jika hujan turun tiba – tiba.

Dan benar, gerimis kecil mulai turun ketika baru 20 meter mereka keluar dari cafe. Dalam beberapa detik saja hujan turun dengan derasnya. Alhasil mereka harus menepi ke sebuah pinggiran toko untuk menghindari air hujan.

“Hujannya kayaknya lama deh, Mas.”, ujar Rara.

“Iya kayaknya. Eh Ra, gimana kalau hujan – hujanan?”

“Nggak deh, Mas. Kayak anak kecil aja.”

“Ya nggak hujan – hujanan gitu. Rumah saya deket sini. Nanti mampir ke rumah aja sambil nunggu reda. Kalau ke rumah kamu kan agak jauhan. Daripada disini, udah mau malam lo.”

“Gimana ya, Mas?”

“Nggak saya apa – apain kok.”, Rara lantas tertawa mendengar respon Damar.

“Nggak gitu. Yaudah deh ayo.”

Akhirnya mereka pergi menerobos hujan yang intensitasnya lumayan deras. Namun sebelum itu Damar melepas jas almamaternya yang kemudian ia gunakan sebagai pelindung dirinya dan Rara meski tidak terlalu membantu. Tapi setidaknya agar air hujan itu tidak langsung jatuh di tubuh mereka. Tidak sampai lima menit mereka sudah sampai di rumah Damar.

Rumah itu lumayan besar dengan pagar yang tidak terlalu tinggi. Disampingnya terdapat sebuah bagasi yang terlihat kosong. Mungkin kendaraan – kendaraan yang sering berada di sana sedang mengabdi untuk mengantarkan sang Tuan kemanapun mereka pergi. Damar langsung membuka pintu dan mempersilahkan Rara masuk. Tubuh mereka sudah basah kuyup karena air hujan.

“Bentar ya, aku ambilin baju.”, Damar kemudian masuk kedalam kamarnya dan tidak lama ia kembali dengan membawa celana dan kemejanya. “Kamu ganti di kamar mandi sana ya. Saya juga mau ganti di kamar.”

Setelah itu mereka berpisah untuk mengurus urusannya masing – masing. Damar keluar duluan dari kamar kemudian menyuruh Bibi untuk membuatkan minuman hangat untuknya dan Rara. Tak lama setelah ia kembali ke ruang tamu Rara muncul dengan memakai kemejanya yang tambak begitu kebesaran di tubuh gadis mungil itu.

“Mas Damar disini sendirian?”, tanya Rara setelah ia duduk di sebelah Damar.

“Nggak. Ada Bibi dibelakang.”

“Orangtua?”

“Mama sama Papa pulang malam biasanya.”

***

Hujan diluar sudah mulai reda namun masih terdengar gerimis kecil. Rara menikmati teh hangatnya dengan sesekali bercengkrama dengan Damar. Sama seperti Damar, gadis itu juga merasa nyaman mengobrol bersama. Saat mereka sedang asyik bersenda gurau tiba – tiba terdengar suara mobil dari luar rumah.

Sepertinya ada seseorang datang. Tak lama kemudian sosok perempuan setengah baya muncul dari balik pintu. Dengan menjinjing tas khas milik ibu – ibu dengan sepatu high heels yang sangat pas di kakinya membuat perempuan itu cantik diumurnya yang sudah tidak muda lagi.

“Lho, ada tamu ternyata.”, ujar perempuan itu sesaat setelah melihat Rara di ruang tamu miliknya. Rara kemudian berdiri dan tersenyum canggung. Damar hanya mengikuti apa yang gadis itu lakukan. “Temannya Damar ya?”

“Saya Rara, Tante.”, ucap Rara yang kemudian menyalami perempuan tadi.

“Namanya cantik ya, kayak wajahnya juga cantik.”

“Terimakasih, Tante.”

“Damar jarang – jarang lho bawa cewek ke rumah. Tante senang kamu mau kesini. Yaudah, Tante ke dalam dulu ya.”, kata perempuan itu seraya menepuk pundak Rara lembut lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ra, udah reda. Saya antar kamu pulang.”, ucap Damar namun ada yang berubah dari nada bicara laki – laki itu. Terkesan dingin. Tidak sehangat sebelum kedatangan Mamanya.

***

“Ra, jangan pernah ketemu sama Mama lagi.”, ujar Damar saat mereka berjalan menuju tempat tinggal Rara. Rara yang mendengar hal itu kaget dan merasa aneh dengan pernyataan Damar.

“Kenapa, Mas?”

“Saya bilang nggausah ketemu ya jangan ketemu!”, ujar Damar dengan nada tinggi.

“Ya tapi saya butuh alasan, Mas. Kenapa?”

“Bisa nggak kita mulai aja hubungan ini tanpa tanya kenapa?”

“Mas, gimana kita mau mulai kalau saya nggak tahu apa – apa?”

“Masa lalu saya nggak penting, Ra.”

“Saya nggak peduli itu penting atau nggak. Tapi tetap saja kita nggak bisa mulai kalau Mas Damar nggak cerita apapun.”

“Saya akan cerita tapi nggak sekarang.”

“Dan saya selalu nunggu sampai kamu percaya sama saya, Mas.”

***

Hari ini Rara kebingungan mencari Damar. Laki – laki itu menghilang begitu saja. Ia telah mencari Damar di kelasnya tetapi semua orang hanya mampu menggeleng. Ia mencari disetiap sudut kampus, tapi tetap nihil. Ia juga sempat mencari di cafe yang sering mereka datangi berdua, tapi pelayan cafe juga tidak tahu mengenai hal itu. Akhirnya Rara kembali ke kampus dan mencari Doni. Semoga saja laki – laki itu tahu dimana Damar.

“Mas, lihat Mas Damar nggak? Saya cari kemana – mana kok nggak ada ya?”, tanya Rara pada Doni saat menemui laki – laki itu di kantin kampus.

“Gue seharian juga belum lihat dia. Kalian berantem?”

Rara menghembuskan nafas panjang, “Dia marah sama saya.”

“Kok bisa?”

“Kemarin saya ketemu Mamanya Mas Damar.”

“Mamanya? Trus?”

“Iya. Saya ketemu di rumahnya Mas Damar. Terus dia bilang ke saya jangan ketemu sama Mamanya lagi. Saya tanya kenapa, tapi Mas Damar nggak mau cerita. Akhirnya kita berantem.”

“Jadi dia masih trauma.”, ucap Doni yang terkesan seperti gumaman tapi masih mampu ditangkap oleh pendengaran Rara.

“Trauma?”

“Ada hal di masa lalunya yang buat dia nggak suka sama Mamanya. Hal itu juga penyebab kenapa lo nggak boleh ketemu sama Mamanya lagi. Hal itu yang membuat Damar mungkin marah sekarang.”

“Hal itu apa?”

“Gue pernah bilang kan, cuma Damar yang berhak cerita.”

“Ada hubungannya dengan cewek itu?”

“Tanya Damar, Ra. Gue bukan orang yang tepat buat lo tanya. Tapi gue kasih tahu satu hal. Saat Damar udah bilang untuk lo jangan temui Mamanya lagi, itu artinya dia serius sama lo, Ra. Dia sayang sama lo.”

“Tapi apa hubungannya? Dan sekarang dia malah ngilang gini.”

“Udah cari dirumahnya?”

“Belum.”

“Lo coba cari sana.”

***

Rara akhirnya menuruti perintah Doni. Saat ini ia telah sampai di rumah Damar. Rumah yang membuat hubungannya dengan laki – laki itu sedikit renggang sekarang. Rumah yang menjadi saksi bisu masa lalu Damar yang tidak diketahui Rara. Rumah yang terbuka untuk siapa saja tapi mungkin begitu tertutup untuknya saat ini.

Ia memberanikan diri untuk masuk. Ia mengetuk pintu dan tak lama muncul perempuan sekitar 40-an muncul dengan daster khas asisten rumah tangga. Bibi langsung mempersilahkan Rara masuk dan duduk di ruang tamu. Sedangkan dirinya masuk kedalam rumah untuk mengambil suguhan untuk Rara. Sesaat setelah Rara duduk seorang perempuan lagi masuk kesana. Perempuan itu lah yang menjadi pertanyaannya saat ini. Tapi mungkinkah ia malah bisa menjadi jawaban atas pertanyaan yang kemarin ia ajukan pada Damar? Ya, ia kembali bertemu Mamanya Damar.

Ia mengutarakan maksud kedatangannya pada perempuan itu. Jawaban yang mengejutkan pun Rara dapatkan. Perempuan itu berkata bahwa Damar pergi ke kampus. Tapi tadi ia mencari dan tak kunjung ketemu. Kemana Damar sebenarnya?

Rara ingin sekali menanyakan masalah kemarin pada perempuan ini. Banyak pertanyaan yang ingin ia utarakan namun ia menelannya kembali. Mungkin Doni benar. Damarlah orang yang tepat untuk memberi jawaban itu. Mama Damar terkesan seperti ibu – ibu kebanyakan. Ramah, supel, dan suka bercerita. Rara hanyut dalam obrolannya dengan seseorang yang dibenci oleh orang yang ia sukai. Ditengah obrolan mereka yang mulai mengasyikkan, tiba – tiba Damar sudah hadir di pintu. Rara yang segera menyadari kedatangan laki – laki itu langsung terdiam dari gurauannya. Hal tersebut juga membuat perempuan satunya lagi melihat ke arah pintu.

“Damar. Kemana aja sih? Ditungguin cewek cantik nih.”, ucap Mama Damar. Namun ucapan itu tidak digubris Damar. Tatapannya tertuju pada Rara. Tatapan itu dingin. Tidak seperti Damar yang dulu.

“Ngapain kamu disini?”, ujarnya dingin.

“Saya nyari kamu, Mas.”, jawab Rara.

“Pulang sekarang.”, kata Damar seraya menarik tangan gadis itu untuk berdiri.

“Kita perlu ngomong, Mas.”, ujar Rara sesaat sebelum laki – laki itu menyeretnya keluar rumah.

“Oke, tapi nggak disini.”

“Tante saya pamit….”, belum sempat Rara menyelesaikan kalimatnya, tangannya sudah ditarik oleh Damar. Namun laki – laki itu melepaskan cengramannya saat mereka sudah berada di luar rumah.

“Mau ngomong apa?”

“Mas Damar kemana?”

“Saya ada urusan.”

“Kenapa Mas Damar ngelarang saya ketemu Mamanya Mas Damar?”, Damar hanya terdiam ketika diberi pertanyaan itu oleh Rara. “Berapa lama lagi saya nunggu untuk dapat jawaban itu, Mas?”

“Saya selalu nggak punya jawaban atas ‘kenapa’-mu, Ra.”

“Kamu ngelarang saya ketemu sama Mama kamu tanpa alasan yang jelas. Jadi saya nggak punya alasan juga untuk nurut sama kamu.”

“Ra, tolong. Kita jalani aja semua ini tanpa tanya ‘kenapa’.”

“Mas, gimana kita bisa jalani ini kalau saya aja ngerasa belum kenal Mas Damar sepenuhnya.”, ujar Rara dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya. Rara mulai kehilangan kesabarannya. Damar kemudian menunduk dan menghela nafas dengan keras lalu mengusap wajahnya dengan gusar.

“Ra, kita jalan yuk.”, ajak Damar yang seakan ada kelelahan saat mengucapkannya.

“Ck.”, Rara bercedak kesal. Tapi ia yakin Damar ingin membuka semuanya sekarang. Tapi tidak disini. Ia butuh tempat. “Kemana?”

***

Damar membawa gadis itu ke taman samping rumahnya. Mungkin disini lebih tenang. Mungkin disini ia bisa mengutarakan semuanya pada Rara. Ia tahu ia tidak mungkin terus menyembunyikan hal itu pada Rara. Karena ia juga tidak ingin kehilangan gadis itu. Damar duduk di bangku taman yang kemudian diikuti oleh Rara. Hening. Belum ada yang bicara.

Rara juga tidak ingin memaksa Damar. Ia ingin laki – laki itu bicara atas kemauannya sendiri. Sebesar apapun rasa ingin tahunya, ia tetap ingin Damar nyaman bercerita dengannya. Ia ingin Damar memberitahunya memang karena laki – laki itu mempercayainya. Damar masih menatap ke depan. Mengumpulkan keberanian untuk membuka luka di masa lalunya.

“Aku cuma nggak mau kehilangan kamu, Ra.”, ujar Damar memulai pembicaraan. Rara hanya terdiam, ia memberi waktu untuk laki – laki itu. Ia tidak ingin menginterupsinya terlebih dulu. “Ini soal cewek yang diceritakan Doni. Waktu SMA saya deket sama dia. Namanya Laura. Kita pacaran. Saya kenalin dia sama Mama. Laura nyaman sama Mama, Mama juga suka sama Laura. Mama saya kerja di agensi model, Papa direktur disana. Mama dan Laura makin deket sampai akhirnya Mama tawarin Laura untuk jadi model di agensi Mama. Semua masih sama waktu itu. Tapi semakin kemari hubungan saya sama Laura jadi regang karena kesibukan Laura.

“Tapi nggak sampai disitu. Mama memberinya tawaran yang sangat tidak mungkin ditolak Laura. Mama tawarin dia untuk sekolah model di Amerika sekaligus jadi model disana. Dia ninggalin saya. Dia nggak tanya saya soal keputusan itu. Papa juga selalu dukung Laura karena itu bisa jadi income bagus buat Papa. Saya cuma nggak pengen itu terjadi lagi ke kamu kalau kamu deket sama Mama. Terlebih kalau kamu juga kenal sama Papa”, jelas Damar yang mampu membuat gadis itu tak percaya. Ia tidak menyangka bahwa laki – laki itu mempunyai luka masa lalu yang membuat keluarganya tak lagi hangat.

“Mas, saya sama Laura itu dua orang yang berbeda. Saya sama sekali nggak ada niat untuk kesana.”

Damar mendengus, “Awalnya Laura juga begitu. Tapi apa? Dia tetap pergi dan nggak kembali sampai sekarang.”

“Saya butuh kamu percaya sama saya, Mas. Kamu tahu apa mimpi dan cita – cita saya dari kecil.”

“Jalan hidup orang nggak ada yang tahu, Ra.”

“Kamu masih ada rasa sama Laura?”

“Tidak. Rasa itu hilang tepat saat dia bilang dia mau lepas saya dan memilih pergi. Saya takut kamu ninggalin saya seperti apa yang dilakukan Laura. Saya sayang sama kamu.”, ucap Damar yang seketika membuat Rara mengingat apa yang sempat dikatakan Doni bahwa laki – laki di sebelahnya ini memang serius dengannya. “Saya nggak punya apa – apa. Keluarga sempurna yang saya inginkan jelas jauh dari harapan. Dari kecil Mama Papa nggak pernah ada waktu buat saya. Saat saya pulang saya ragu untuk masuk ke rumah. Saya ragu apakah itu rumah saya atau bukan. Karena setiap kali saya masuk, saya nggak nemuin keluarga saya di setiap sudut rumah. Kadang juga saya tanya ke Bibi Mama sama Papa mana? Meskipun saya tahu mereka dimana, tapi setidaknya hal itu bisa meyakinkan saya kalau itu memang benar – benar rumah saya.

“Alasan kenapa saya masuk ke Teknik Sipil itu sebenarnya saya pengen bangun rumah, Ra. Rumah yang memang pantas untuk dipanggil rumah. Rumah yang memang tempat terakhir untuk seseorang pulang. Sekarang saya cuma punya kamu, Ra. Saya takut kamu ninggalin saya. Saya takut. Saya benar – benar takut.”

Rara melihat ada buliran air mata meluncur dari mata laki – laki itu. Rara juga mampu merasakan apa yang laki – laki itu takutkan. Rara manarik Damar kedalam pelukannya. Entah itu bisa meringankan bebannya atau tidak yang jelas Rara ingin mencobanya. Damar kemudian membenamkan wajahnya pada pundak gadis itu. Ia melepas semua bebannya. Masa lalunya. Dipundak itu ia merasa lega. Sesuatu yang mengganjal pikirannya selama ini telah ia keluarkan. Pada gadis yang telah ia percaya.

Advertisements

One thought on “Tidak Ada Jawaban Untuk ‘Kenapa’-mu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s