Review

{Review #2} Sayap – Sayap Kecil

img_20160420_1354191

“Para Pembaca.
Berikut fakta singkat tentang diriku:
1. Namaku Lana Wijaya.
2. Ibuku suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apapun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.
3. Aku punya tetangga baru. Cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.
4. Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.
5. Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.
Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh. Tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku.”

Hai! Welcome back di blognya Renita. Kembali lagi dengan review…

Itulah sepenggal sambutan dari penulis pada sisi terakhir buku ini. Anyway, buku ini saya dapat dari giveaway di twitter. Thanks to @NovelAddict_ yang udah suka rela memberi saya buku ini XD Menurut saya, buku ini rasanya lebih tepat untuk pembaca yang sedang menjalani peran sebagai orang tua, khususnya ibu.

Buku ini menceritakan seorang gadis berusia 16 tahun bernama Lana. Lana Wijaya. Gadis yang selalu terdapat lebam di tubuhnya. Ya, kalian tidak salah baca. Dia adalah korban kekerasan ibunya sendiri. Namun sayang, gadis itu tidak punya siapapun selain ibunya. Hal tersebut membuat ia harus rela mendapat luka di tubuhnya apabila suasana hati ibunya yang kurang baik. Hingga akhirnya ia harus menghembuskan nafas terakhir akibat ulah tangan ibunya sendiri.

Dari buku ini kita belajar bahwa menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Kita belajar bahwa mendidik bukan dengan tangan tapi seharusnya dengan hati. Karena itulah saya mengatakan diawal bahwa buku ini sebenarnya lebih cocok untuk pembaca yang merupakan seorang ibu. Kita disuguhkan dengan cerita kehidupan yang berbeda dengan kehidupan orang normal pada umumnya.

Lana bukan tipe orang yang bisa berteman dengan siapa saja. Ia selalu memilih untuk menyingkir dari kerumunan. Ia lebih memilih untuk sendiri. Karena disitu tidak akan ada yang tahu bahwa ia korban kekerasan. Disitu ia tidak perlu menyembunyikan luka lebamnya. Atap. Disanalah tempat ia menyendiri. Jarang tempat itu dikunjungi, terkadang hanya tukang kebun yang menyimpan alat – alatnya disana. Hingga suatu hari ada satu laki – laki yang berani untuk mengunjunginya disana.

Namanya Surya. Dia adalah anak baru yang menjadi kakak kelas Lana. Surya dengan senang hati mendengarkan gadis itu bersenandung bersama gitarnya di atap. Hubungan mereka semakin dekat. Lana selalu nyaman ketika bercerita dengan Surya. Dan manisnya Surya tinggal tepat di samping rumah Lana. Mereka sering bertukar canda saat malam hari melalui jendela kamarnya yang kebetulan juga berhadapan dengan jendela kamar laki – laki itu.

Namun kehadiran Surya tidak mengubah apapun dalam hidup seorang Lana Wijaya. Lana tetap hidup di dalam kesakitannya akibat pukulan dari sang ibu. Memang apa yang bisa diperbuat Surya? Sekalipun ia telah menelpon KPAI dan melaporkan tindak kekerasan tersebut, tetap saja semua keputusan ada di tangan Lana. Entah jin apa yang merasuki tubuh gadis itu sehingga ia rela membela ibunya hanya karena alasan ia tidak memiliki siapapun selain ibunya.

Sampai akhirnya Surya pun ikut pergi dari kehidupan Lana, entah kemana. Lana memang mencari tapi tidak pernah menemukan. Dari sekolah hingga rumah. Tidak ada tanda kehadiran laki – laki itu. Hingga ia akhirnya menyadari satu hal bahwa Surya sebenarnya tidak ada. Bukan. Bukannya ‘tidak ada’ berarti ia pergi. Tapi Surya memang benar – benar tidak ada sebagai manusia. Lalu laki – laki itu siapa? Khayalan Lana? Atau mungkin hantu? Atau mungkin….? Entahlah selesaikan sendiri ceritanya. Kalian akan tahu setelah menyelesaikan buku ini.

Buku yang ditulis oleh Andry Setiawan ini menghadirkan sisi lain dari kehidupan normal yang biasa kita lihat. Buku ini pun termasuk ringan untuk dibaca, karena selain kalimat yang digunakan begitu mudah kita terima, halaman buku ini yang hanya 122 halaman pun tergolong lebih sedikit dari kebanyakan novel lainnya. Buku ini menunjukkan pada kita bahwa penyesalan selalu datang di akhir. Maka dari itu, setiap tindakan harusnya dipikirkan dengan matang agar tidak ada penyesalan yang terucap.

Segitu dulu yang dapat saya tulis mengenai buku ‘Sayap – Sayap Kecil’ ini. Bagi yang penasaran siapa Surya sebenarnya, buruan deh baca 😀 Btw, mungkin agak susah menemukan buku ini di toko buku offline, karena tanggal terbitnya yang udah lumayan lama, yakni Oktober 2015. Tapi yang mau cari di toko buku – toko buku online mungkin masih tersedia stoknya. Buruan ya baca, karena lumayan nggak ketebak ending-nya. Serius!!

Sekian, terimakasih sudah meluangkan waktu membaca review ini 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s