Review

{Review #5} Sabtu Bersama Bapak

img_20160607_0934011

“”Hai Satya! Hai Cakra!” sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit.
Alhamdulillah berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung kemana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.”

Hai! Welcome back di blognya Renita. Kembali lagi dengan review di blog ini. Sebelumnya, sorry if this review isn’t as good as you expect. But, just enjoy haha.. Back to the topic. Sebenarnya telat banget saya baca novel ini sekarang. Asli saya mau bilang ini novel really recommended. Nggak akan nyesel beli novel ini! Kalo yang saya beli ini udah versi cover film nya. Karena awalnya kurang minat gitu buat lirik novel ini. Jadi ini nih cover aslinya.

Menurut saya sih, Gagas kurang epic dalam pembuatan covernya. Karena ya menurut saya biasa aja Itulah sebabnya saya kurang minat buat beli novel ini meskipun liat teronggok di jajaran bestseller.

Saya pergi ke berbagai toko buku dan ya saya sadar buku ini selalu ada di dalam raknya. Tapi karena emang saya orangnya kurang ngeh sekaligus nggak peka jadilah buku ini saya lewatin tanpa baca bagian belakangnya. Dan sekarang, setelah buku ini jadi film, saya jadi tertarik. And guess what? I really regret it. Why? Karena emang keren banget novel ini. Nggak lebay, tapi serius nggak boleh dilewatin novel satu ini.

Novel yang berjudul “Sabtu Bersama Bapak” ini banyak bercerita tentang hidup. Berawal dari sebuah kisah seorang Bapak yang ingin tetap menemani anak – anaknya. Dalam buku ini diceritakan bahwa sang Bapak menderita penyakit kanker dan hanya mampu bertahan selama satu tahun. Kemudian beliau membuat video demi video yang akan dipertontonkan kepada kedua anaknya, Satya dan Cakra, sebagai bekal hidup mereka. Bapak memang tidak bisa menemani mereka hingga dewasa tapi pesan – pesan Bapak mampu menghantarkan kedua anaknya tumbuh dan berkembang.

Setiap sabtu Satya dan Cakra selalu duduk manis menonton video peninggalan Bapak. Mereka menontonnya hingga tumbuh dewasa dan menjadi orang sukses. Bahkan hingga Satya menikah. Bersama Bapak Satya tumbuh menjadi sosok laki – laki yang disukai banyak wanita. Namun pilihan Satya jatuh pada Rissa. Perempuan yang telah memberi tiga orang putra dalam keluarga kecil Satya.

Tapi sayang, Satya bukanlah sosok ayah yang mampu menjadi tempat anak – anaknya bertukar cerita tapi malah membuat mereka takut berbicara. Satya bekerja di kilang minyak yang jauh dari tempat keluarganya tinggal. Setiap pulang Satya selalu marah – marah. Jelas hal itu membuat keluarganya kurang harmonis. Rissa. Untungnya perempuan itu mampu menjadi pendingin suasana. Rissa akhirnya mampu membuat Satya sadar bahwa menjadi Bapak berarti menjadi orang yang paling dipercaya oleh keluarga. Orang yang mampu menjadi tempat curhat bagi anak – anaknya.

Berbeda dengan Satya yang kelihatan begitu mudah mendapatkan wanita, Cakra, sang adik, sulit sekali untuk mendapatkan perhatian dari perempuan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Ayu. Seorang staf baru di Bank tempat Cakra bekerja sebagai Deputy Director. Seseorang yang membuat Cakra hilang kendali hanya dengan melihatnya. Tapi sayang Cakra bukan satu – satunya orang yang menyukai Ayu. Ada Salman. Laki – laki penuh pesona yang jelas jauh lebih unggul dari Cakra. Cakra merasa telah kalah dan akhirnya menyetujui untuk bertemu dengan perempuan rekomendasi sang ibu meskipun hati Cakra masih tertambat di Ayu. Lalu apakah Cakra bisa melupakan Ayu? Atau mungkin Cakra malah menjadi pemenang atas persaingannya dengan Salman? Atau gadis pilihan ibunya yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya? Kalian akan menemukan sendiri dalam novel ini.

Buku ini menurut saya cocok banget dibaca oleh para laki – laki. Buku ini banyak memberi pelajaraan mengenai how to be a better person, how to be a good husband and also how to be the best daddy for his children. Buku ini menunjukkan betapa Bapak sangat mencintai istri dan anak – anaknya sehingga ia menitipkan pesan – pesan agar anak – anak bisa hidup lebih baik daripada beliau.

Sang penulis, Adhitya Mulya, dengan sangat rapi menyusun kalimat – kalimatnya sehingga mudah dipahami pembaca. Ditambah ungkapan – ungkapan lucu yang menambah ketertarikan pembaca untuk menyelesaikan buku ini. Namun sayang, dari segi alur yang bersifat cuplikan – cuplikan terkadang membingungkan pembaca. Dan juga penulisan percakapan antar karakter. Penulis sering tidak menyebutkan siapa yang mengucapkan kalimat tersebut, alhasil pembaca seringkali harus merunut dari atas untuk memahaminya. Tapi disamping itu, everything was good enough. Novel yang berisi 277 halaman ini sangat sarat akan amanat yang dapat diambil oleh pembaca. Itulah kenapa saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Serius! Nggak akan nyesel baca buku ini!

Akhir kata, terimakasih sudah menyempatkan untuk membaca review ini. Selamat membaca! Selamat berinteraksi dengan Bapak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s