Short Story

Prioritas

Laki – laki itu terus melaju dengan kecepatan tinggi. Ini masalah nyawa. Ada satu kehidupan yang berada ditangannya saat ini. Telat satu menit saja, satu nyawa bisa melayang. Bukan karena semata – mata tugasnya, tapi tentang rasa sakit itu. Bangunan serba putih menjadi pelabuhan tujuannya. Ruang operasi dengan lampu putih yang membuat segalanya terasa menegangkan. Nadinya mengkerut. Jantungnya berdegup lebih kencang. Karena operasi kali ini bukanlah seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya.

Gadis yang terbaring itulah alasannya. Gadis yang akan selalu ia usahakan untuk tetap hidup. Laki – laki itu memejamkan mata sejenak. Kemudian menarik nafas untuk kembali menetralkan pikirannya. Ia mengambil sarung tangan dan mulai berdo’a. Pisau operasi telah ada di tangan dan siap untuk menyobek dada gadis itu. 1 jam. 2 jam. Detik terus bergulir hingga semuanya berakhir.

“Kalian selesaikan jahitannya.”, ujar laki – laki itu pada perawat di sekelilingnya. Kemudian ia berjalan keluar ruang operasi dan membuka sarung tangannya. Ia mencuci tangannya di wastafel, mencuci wajahnya lalu menghembuskan nafas lega. Ya, gadis itu masih bisa tertolong.

***

“Apa yang terjadi?”, ujar laki – laki itu yang diketahui bernama Rudy sesaat setelah keluar dari ruang operasi.

“Bisakah beritahu kami terlebih dahulu, bagaimana keadaan Dena?”, sahut salah seorang dengan tubuh tegapnya, ciri seorang aparat negara.

“Operasi berjalan lancar tapi keadaannya masih kritis. Sekarang jawab pertanyaanku tadi.”

“Dena keluar barisan. Dia mengikuti buronan tanpa sepengetahuan kami. Kemudian dia menyerangnya sendiri. Dena melepaskan tembakan di kaki buronan itu. Mungkin dia tidak sadar jika lawannya membawa senjata. Akhirnya Dena tertembak.” Rudy menghela napas lalu terdiam sesaat.

“Aku akan menjaganya disini. Kalian bisa kembali ke kantor dan menyelesaikan kasusnya.”, ujar Rudy kemudian.

“Baiklah. Aku titip Dena.”, sahut seorang gadis satu – satunya disana.

***

Hari ini Rudy berangkat lebih pagi lagi. Tak lain karena gadis itu ada disana. Sudah seminggu ia selalu berangkat tidak seperti biasanya. Bagi Rudy, dimanapun tempatnya, asalkan ada gadis itu, tempat itulah yang akan menjadi tujuannya. Tujuannya untuk mengganti penat dengan sebuah kesegaran hanya dengan melihat wajah gadis itu.

“Bagaimana keadaannya pagi ini?”, tanya Rudy pada seorang perawat yang saat ia masuk kedalam kamar gadis itu, perawat tersebut sedang memeriksa Dena.

“Sejauh ini keadaannya terus membaik, Dok. Semoga segera sadarkan diri.”, jawab perawat itu.

“Syukurlah.”, perawat itupun permisi untuk keluar, sedangkan Rudy duduk di sebelah ranjang dimana gadis itu sedang terbaring. Ia menggenggam tangan pucat disampingnya itu. Memberinya energi yang mungkin sedikit bisa membantunya merasakan udara segar pagi ini. Rudy terus memandang wajah manis dihadapannya itu. Seminggu yang lalu, ia masih bisa melihat senyum indahnya. Ya, kebahagiaan memang selalu datang dengan singkat bahkan hilang sebelum sempat menikmatinya. Tak lama kemudian ia mendapati tanda – tanda gadis itu sadar. Tangannya mendadak menjadi dingin. Jantungnya kembali berdegup kencang. Astaga, sedemikian besarkah peran gadis itu dalam mekanisme kerja tubuhnya?

“Dena? Kamu mendengarku?”, panggil Rudy saat melihat gadis itu membuka sedikit matanya. Dena hanya mampu mengangguk. Tenggorokannya terasa kering. “Akhirnya kamu sadar. Terasa pusing? Atau mual?”

“Sedikit pusing.”, jawab Dena dengan suara yang begitu lirih.

“Itu efek karena kamu tidak sadarkan diri terlalu lama. Selain itu bagaimana rasanya?”

“Aku merindukanmu.”

“Ck. Bahkan peluru pun tidak mengubahmu sama sekali.”

“Aku kira peluru itu sudah menembus paru – paruku.”

“Hampir, Na! Rusukmu saja sudah patah karena benda itu.”, Dena hanya tersenyum tipis. Senyum itulah yang begitu dirindukan Rudy seminggu ini. Ia sungguh merasa lega. Ingin sekali ia berteriak meluapkan kegembiraannya pagi ini. Kegembiraan atas kembalinya gadis itu padanya. “Aku memeriksa pasien yang lain dulu. Kamu istirahat saja, kondisimu belum sepenuhnya pulih. Setelah itu aku akan kesini lagi.” Rudy meninggalkan Dena untuk beristirahat.

***

“Pagi.”, sapa Rudy pada gadis yang sedang duduk di ranjang rumah sakit dan sedang bersiap – siap untuk kepulangannya itu.

“Yaa.. Ngomong – ngomong, kapan aku bisa keluar dari sini?”, tanya Dena.

“Pihak administrasi masih membereskan berkas – berkasnya. Orangtuamu?”

“Aku harap kamu tidak memberi tahu mereka.”

“Jadi mereka belum tahu?”

“Mereka pulang dari Singapura seminggu lagi. Semua akan sama baik – baik saja nanti. Jangan memberi tahu mereka keadaanku, oke?”

“Na…”

“Kalau mereka tahu, mereka akan benar – benar menyuruhku mengundurkan diri dari Kepolisian. Itu tidak mungkin, Rud.”

“Kalau aku yang menyuruhmu?”, seketika Dena memfokuskan pandangannya pada Rudy.

“Maksudmu?”

“Bagaimana jika aku yang menyuruhmu keluar? Pekerjaan ini terlalu beresiko untukmu. Kemarin kamu jatuh dari pohon saat pengintaian dan kakimu sempat retak. Lalu sekarang puluru sudah mematahkan rusukmu. Besok apalagi, Na? Apa saat aku melihatmu tidak bernafas lagi, baru kamu berhenti?”

“Nggak perlu berlebih seperti itu, Rud. Oke, aku akui kali ini murni kesalahanku. Aku melanggar protokol keamanan. Tapi aku janji aku tidak akan membuat hal ini terulang lagi.”

Rudy menarik bahu gadis itu kemudian memeluknya. Hanya itu caranya menutup perdebatan ini. Ia tidak mau terus berdebat dengan gadis itu. Mungkin bisa dibilang berlebihan, tapi ia begitu menyayangi gadis ini. “Aku hanya tidak ingin lagi melihatmu terbaring di ranjang ini, Na.”

***

Rudy mengemudikan mobilnya dengan tenang diantara jalan yang mulai ramai di malam hari. Ia menuju pada sebuah cafe untuk memenuhi janjinya dengan gadis itu.

“Hai,Na!”, sapa Rudy lalu duduk dihadapan gadis itu.

“Hai. Bagaimana rumah sakit hari ini?”

“Aku dengar ada korbanmu baru masuk. Kasus apa?”

“Biasa. Pemerkosaan.”

Detik. Menit. Hingga jam berlalu begitu cepat. Setiap hari bertemu tapi selalu ada banyak cerita. Rudy merasa begitu nyaman bicara dengan Dena. Meski seringkali mendebatkan hal – hal yang sepele hingga hal – hal yang butuh keseriusan, Dena merupakan seorang pendengar yang baik bagi Rudy.

“Aku ke kamar mandi dulu ya.”, ujar Dena kemudian meninggalkan Rudy yang masih duduk di kursinya.

Selang beberapa saat Dena kembali dari kamar mandi, namun tidak mendapati keberadaan laki – laki itu. Ia menemukan secarik kertas yang ia kenali tulisan tangannya. ‘Aku pergi dulu. Ada pasien yang menunggu di rumah sakit.’ Mendapati pesan itu, akhirnya Dena memutuskan untuk pulang ke rumah.

***

Ponselnya berdering menandakan ada pesan yang masuk. Gadis itu membukanya dan melihat foto yang dikirim ke alamat e-mailnya. Ia segera menepi karena foto itu telah mencuri sebagian besar perhatiannya. Ada gambar Rudy yang sedang disekap pada sebuah gedung kosong. ‘Mengenalinya, Nona? Ini baru awalan atas sikapmu yang menggagalkan usaha anak buahku membawa lari ganja dan heroin itu. Aku yakin Anda belum lupa atas kasus satu bulan yang lalu.’

Gadis itu langsung membanting kemudinya menuju ke kantor polisi. Ia terus menancap gas sekencang yang dia bisa. Hanya butuh waktu 5 menit ia sampai di kantor. Sepi. Memang bukan waktu kerja. Tapi setidaknya ada paling tidak 5 polisi yang berjaga.

“Bapak ada?,” tanya Dena pada salah seorang polisi yang sedang berjaga disana.

“Lima menit yang lalu baru keluar. Besok kan juga ketemu, Mbak.”

“Tim penyidik masih ada yang di kantor?”

“Tinggal Mbak Dina sama Mas Adi.”

“Dimana mereka?”

“Terakhir saya lihat ada di ruangannya. Kenapa, Mbak? Ada kasus?”

“Oh iya, minta tolong hubungi Bapak untuk kembali kesini. Makasih, ya.”

Bak memerintah, Dena langsung masuk kedalam kantor tanpa menunggu reaksi polisi tadi. Ia menaiki beberapa anak tangga untuk mencari Dina dan Adi di ruangannya. Sesampainya di ruangan tim penyidik, Dena akhirnya mampu menemukan Adi dan Dina.

“Kenapa balik lagi, Na? Tugas jaga malam ini?”, tanya Adi pada Dena sesaat setelah gadis itu membuka pintu.

“Rudy diculik. Tersangkanya adalah bos dari orang yang menembakku sebulan yang lalu.

“Serius? Kok bisa?”, sahut Dina dengan raut muka kagetnya.

“Aku tidak tahu bagaimana bisa. Tapi yang jelas, kita harus segera menemukan dia secepatnya.”

“Ada apa?”, tanya seorang laki – laki yang tiba – tiba muncul dari balik pintu. Laki – laki itu tinggi, tegap dan sepertinya sudah kepala empat dilihat dari raut wajah serta perawakannya.

“Ada kasus penculikan, dan tersangkanya adalah atasan dari buronan kita yang sempat menembak Dena waktu itu, Pak.”

Tanpa pikir panjang saat itu juga mereka menghubungi beberapa tim penyidik lainnya. Setelah semua datang, mereka mendiskusikan langkah apa yang seharusnya diambil. Akhirnya mereka menemukan satu titik temu keberadaan Rudy. GPS. Laki – laki itu selalu menghidupkan GPS ponselnya. Untung saja, GPS itu masih bisa terlacak. Malam itu juga semua bergegas meluncur tempat yang dituju.

Alat pendeteksi menuntun mereka pada sebuah rumah di pinggir kota. Rumah itu sepi. Sepetinya tidak berpenghuni. Semua bersiap untuk berjaga, mengepung sisi – sisi rumah. Dena membuka pintu rumah itu hanya dengan sekali tendangan. Tapi nihil. Rumah itu kosong. Benar – benar tidak ada sesuatu yang menunjukkan keberadaan Rudy disana. Hanya terdapat ponsel Rudy yang tergeletak di tengah ruangan itu. Kemudian Dena mengambil ponsel tersebut. Mereka tertipu.

“Na..”, panggil Nuril, salah seorang rekan Dena.

“Kita harus cari di tempat lain.”, ujar Dena.

“Semua sudah kita cek. Nihil.”, sahut Tomi.

“Kita cari! Kemana saja! Asal Rudy ketemu!”, ujar Dena yang lebih kepada perintah.

“Mungkin kita bisa lanjutkan esok hari. Ini sudah terlalu larut, Na. Kita malah mengganggu ketenangan warga sekitar.”, ujar Pak Hito yang merupakan Ketua Tim.

Dena tak mampu mengelak lagi. Apa yang dibilang Pak Hito ada benarnya. Tapi hati kecil Dena menolak itu. Ia yakin Rudy tidak sedang baik – baik saja sekarang.

***

Malam berlalu dengan sangat lama menurut Dena. Meski ia masih sempat tertidur, jika satu jam masih bisa dibilang tidur, pikirannya terus bercabang – cabang. Ia tidak tahu keberadaan laki – laki itu. Ada rasa sesal menghinggapi dada Dena. Ya, menyesal karena telah melibatkan laki – laki itu pada pekerjaannya.

“Bagaimana? Ada kabar terbaru?”, tanya Dena pada Adi yang sudah duduk dibalik meja kerjanya. Namun laki – laki itu hanya menggelengkan kepala.

Dena kemudian terduduk di kursinya. Sesaat menghembuskan nafas berat. Ia benar – benar tidak tahu bagaimana menyikapi masalah ini. Jika ia sudah tahu seseorang yang menculik laki – laki itu, pasti ia sudah habis di tangan Dena. Kemudian terdengar suara pesan masuk dari ponsel gadis itu. “Jl.Merbabu No.05, Jakarta Selatan. Jangan libatkan polisi. Atau Anda hanya akan mendapatkan jasadnya.

“Aku sudah mendapatkan informasi. Tapi mereka tidak ingin kepolisian ikut campur. Jadi maaf aku harus datang sendiri.”, ujar Dena setelah bangkit dari kursinya.

“Na, jangan gegabah. Kita harus punya strategi untuk kasus ini.”, sahut Tomi.

“Keselamatan dia yang utama.”, jawab Dena.

“Kita tahu. Kita juga pengen dia selamat. Tapi kalo kamu kesana sendiri, itu sama saja kamu setorin nyawa ke mereka.”, kata Tomi sedangkan Dena hanya mampu terdiam. “Oke, kita rapat sekarang.”

Rapat berlangsung sekitar setengah jam. Semua taktik telah direncanakan. Dena dijadikan seorang umpan. Dena menemui mereka terlebih dahulu. Adi bertugas membuntuti Dena. Apabila ada gerakan yang membahayakan, tim mereka baru akan bergerak dibawah komando Adi.

***

Hanya butuh waktu 30 menit untuk bisa menjangkau alamat yang telah dikirim orang tersebut. Dena berjalan memasuki tempat itu. Tempat yang lebih bisa disebut gudang penyimpanan daripada tempat penyekapan. Gudang itu bersih. Menandakan sepertinya masih terurus dengan baik. Namun suasana sekitar terlihat sepi sekali. Tidak ada pemukiman warga. Gudang tersebut dikelilingi oleh hamparan rumput tinggi dengan beberapa pohon yang menjulang.

Dena tanpa ragu melangkahkan kakinya memasuki gedung itu. Aroma menyengat dari bensin tercium oleh indra Dena. Sepertinya itu gudang penimbunan bahan bakar. Gudang itu sebenarnya tidak terlalu gelap. Namun mata Dena tidak bisa menangkapp dengan jelas sosok yang sekarang sedang berjalan ke arahnya.

“Nyalimu cukup besar, Nona.”, ujar laki – laki dengan tubuh tegap dengan dua orang pengawal di belakangnya.

“Jadi Anda orangnya?”, tanya Dena. “Dimana Rudy?”

“Tidak secepat itu, Nona. Ayolah bermain – main sebentar.”

“Aku tidak ingin bermain – main dengan seseorang yang sebentar lagi membusuk di dalam jeruji besi.”, raut wajah ketiga pria itu seketika berubah. Kemudian laki – laki bertubuh tegap itu menepukkan tangannya sebanyak tiga kali. Tanpa waktu lama muncul dua orang lagi dengan membawa Rudy masuk. Laki – laki itu terlihat pucat. Wajahnya berlumuran darah. Wajah Dena pun merah padam. Ia kemudian memberi kode pada Adi untuk mengirim bala bantuan.

Tanpa pikir panjang gadis itu kemudian menerjang laki – laki yang baru saja berbicara dengannya itu dengan sekali tendangan. Dua orang lagi tak tinggal diam. Mereka berusaha menyerah Dena, namun sayang gadis itu sudah mengantisipasi dengan menarik laki – laki pertama dan memanfaatkannya untuk menendang laki – laki kedua. Sesaat kemudian Adi beserta dengan rekan kepolisian datang membantu Dena menghabisi penjahat – penjahat kelas teri itu.

Dina dengan sergap memapah Rudy keluar dari ruangan tersebut. Ia segera melarikan laki – laki itu ke rumah sakit. Sedangkan Dena masih terus memberi pelajaran pada orang – orang tersebut. Tanpa dinyana ada seseorang di belakang Dena siap dengan balok kayunya. Dena sempat ingin menghindar, namun kayu tersebut sempat menyobek bahu sebelah kanannya. Tak menghiraukan rasa perih akibat robekan itu, Dena terus memberikan tonjokan dan tendangannya. Setelah semua dianggap telah mampu ia ‘diamkan’, ia mengeluarkan borgol dan menyeret mereka semua ke kantor polisi.

“Rudy mana?”, tanya Dena pada Tomi.

“Dina membawanya ke rumah sakit.”, jawab Tomi.

“Kalau begitu aku ke rumah sakit dan kalian urus mereka. Aku sudah menghubungi Pak Hito dan beliau sedang dalam perjalanan ke kantor sekarang. Tolong sampaikan bahwa aku ke rumah sakit dulu.”

“Baiklah. Hati – hati, Na.”

***

Hanya perlu waktu 15 menit untuk gadis itu sampai di rumah sakit. Ia segera berlari ke ruang UGD karena ia telah dihubungi oleh Dina bahwa Rudy sedang berada di ruangan tersebut. Ia menengok ke kanan dan kiri untuk menemukan laki – laki itu. Nafasnya terdengar tersengal – sengal akibat berlari untuk menemui laki – laki itu. Akhirnya Dena berhasil menemukan keberadaan Rudy. Didekatinyalah Rudy yang sedang duduk diatas ranjang rumah sakit. Laki – laki itupun akhirnya mengetahui kedatangan Dena.

“Jadi begini rasanya?”, tanya Dena dengan nafas yang masih tidak karuan.

“Apanya?”, balas laki – laki itu bingung.

“Saat kamu mengkhawatirkanku dulu, begini rasanya?”

“Bagaimana rasanya?”

“Terasa ada yang menyumbat paru – paruku.”

Laki – laki itu pun tersenyum simpul. “Aku baik – baik saja, hanya luka kecil di wajah.”

Dena mengamati setiap inchi dari wajah laki – laki itu. Memang bukan sebuah luka yang bisa disebut parah, namun luka – luka itu hampir memenuhi wajahnya sehingga wajah itu terlihat memerah.

Rudy menoleh ke arah lengan Dena dan menemukan luka di bahu kanan gadis itu. Rudy menarik tangan Dena untuk memerikasanya.

“Ini tadi hanya terkena balok kayu. Aku bisa mengobatinya nanti.”

“Aku obati.”

“Rud, nggakusah. Kamu istirahat saja. Ada banyak dokter disini.”

“I’m okay!”

Rudy tidak mendengarkan perintah Dena sama sekali. Ia menarik gadis itu duduk di ranjang yang semula ia duduki. Rudi meninggalkan gadis itu sebentar lalu kembali membawa alat medis yang Dena ketahui alat – alat itu untuk merawat lukanya.

“Aku juga baik – baik saja, Rud.”

“Diam dan turuti saja, Na!”

Dena kemudian terdiam, membiarkan laki – laki itu melakukan tugasnya. Rudy menyibakkan lengan baju yang dikenakan Dena. Ia memberi perawatan pada luka itu.

“Apa butuh jahitan?”, tanya Dena.

“Sepertinya, kayu itu menyobek kulitmu cukup lebar.”

“Rud, aku minta maaf.”

“Untuk?”

“Sudah melibatkanmu dalam pekerjaanku sekaligus membahayakan nyawamu.”

“Perlukah aku memberitahumu sekali lagi?”

“Apa?”

“Aku akan selalu mengusahakanmu untuk tetap hidup. Maka dari itu, aku juga berusaha untuk tetap hidup. Karena egoisnya, aku ingin tetap melihatmu. Jadi jangan terlalu khawatir padaku.”

Rudy kemudian tersenyum dan kembali fokus pada jahitan luka pada bahu Dena.

“Aku…. Ingin keluar dari Kepolisian. Setelah memikirkannya aku lebih takut kehilanganmu daripada kehilangan pekerjaanku itu. Entahlah sejak bertemu denganmu, prioritasku bukan lagi karir.”

Rudy terdiam menatap gadis itu. Tepat di manik matanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s