Opinion

Hari Buku, Siapa yang Tahu?

Hi! Welcome back di blognya Renita. Masih dengan penulis yang sama, karena blog ini nggak pindah tangan kok 😀 Okay, sekarang saya mau bahas tentang satu moment yang sebenarnya udah telat banget dibahas hari ini. Tapi nggak apa-apa lah ya, kemarin sibuk soalnya hehe

Jadi gini dua hari yang lalu, 17 Mei 2016 merupakan peringatan Hari Buku Nasional. Tau kan? Tau lah ya? Atau masih banyak yang belum tahu soal ini? Memang sih, di Indonesia budaya membaca masih minim banget. Contoh kecilnya aja nih, di sekolah saya, bisa dihitung orang yang doyan ke toko buku atau ke perpustakaan. Sedikit banget gitu. Entah karena aksesnya juga lumayan sulit *meski nggak sesulit di pedalaman* atau emang minatnya aja yang kurang. Dan juga yang baca blog saya ini aja masih sedikit, yuk guys budayakan membaca, mulai baca blog saya misalnya *promosi XD*

Tanggal 17 Mei ini diperingati juga sebagai hari berdirinya PNRI (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia) di Jakarta pada tahun 1980. Jadi hal tersebut juga dijadikan alasan kenapa Hari Buku Nasional jatuh pada 17 Mei.

Banyak dari penduduk Indonesia yang mengerti bahwa buku merupakan jendela dunia tapi masih saja sepi akan pembaca, meski pintu – pintu perpustakaan telah terbuka. Berdasarkan hasil survei UNESCO, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,01%. Itu artinya dari 10.000 orang hanya ada satu orang yang memang memiliki minat dalam hal membaca. Bahkan, Most Literate Nations in the World pada Maret 2016 merilis pemeringkatan literasi internasional yang menempatkan Indonesia berada di urutan ke-60 di antara total 61 negara. Survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan penurunan minat baca masyarakat. Berdasarkan hasil survei 2006-2012, untuk surat kabar ada tren penurunan. Pada 2006, persentase orang yang membaca ada 19,98, selanjutnya untuk 2009 turun menjadi 16,26, dan 2012 menjadi 15,06. Miris kan? Seharusnya dengan penduduk Indonesia sebanyak ini, bisa melampaui negara – negara lain di dunia.

Memang kalau ditinjau kembali masalahnya, banyak buku – buku yang belum terdistribusi dengan baik. Tapi sebenarnya kalau mau usaha cari ada kok. Di kota yang saya tinggali sejak saya di bangku TK ini memang tidak ada toko buku besar sekelas Gramedia yang menyediakan buku – buku dengan berbagai tipe. Adapun perpustakaan daerah ya kondisinya kalian tahu sendiri seperti apa keadaan bangunan yang digunakan untuk umum dan gratis pula. Pasti jauh dari kata mewah. Akhirnya kalau mau cari buku yang lumayan baru ya harus ke kota sebelah buat beli bukunya. Tapi kita ambil hikmahnya saja. Masih ada buku yang bisa dibaca kan meski aksesnya susah?

Sebenarnya kalau mau dicari, banyak kok bahan bacaan yang keren – keren di sekitar kita. Kita saja yang seringkali tutup mata dengan kemudahan itu. Banyak orang yang malah sering stalking gebetan daripada baca buku *eh. Guys, kalau baca buku itu udah pasti nambah ilmunya. Kalo stalking? Belum pasti kan? Udahlah cari yang pasti – pasti aja

Jujur, saya terinspirasi banget sama Eyang Habibie. Tahu beliau kan? Saya juga pernah bahas beliau di post saya yang lalu. Jadi Eyang dari kecil suka banget baca buku. Semua buku beliau babat habis. Setelah gede? Kuliah nya lancar, kerjaannya datang sendiri, jodohnya pun juga datang dengan sendirinya. Nggak mau kayak gitu? Kita juga bisa lihat kisah seorang ilmuwan penyuka buku – buku karya Charles Dickens, William Shakespeare, Edward Gibbon. Beliau adalah Thomas Alva Edison. Beliau ini juga termasuk scientist idola saya. Beliau itu sempat dikeluarkan dari sekolahnya karena kebanyakan nanya. Tapi beliau ini nggak nyerah. Meski dikeluarkan dari sekolahya, beliau nggak menganggap dirinya bodoh. Beliau malah memperkaya dirinya dengan banyak baca buku. Dan lihat sekarang. Setiap orang yang pernah belajar fisika pasti mengenal beliau. See! Bagaimana buku bisa merubah dunia seseorang.

Saya nggak mau ngobrol banyak di post ini. Intinya jangan kebanyakan ngeluh. Ngeluh susah cari buku hingga akhirnya nyerah nggak mau baca. Cari ilmu itu butuh usaha juga. Kalau nggak mau usaha, tidur aja sana, mimpi gantiin Pangeran William Semoga di peringatan Hari Buku Nasional ini, juga menjadi hari peringatan kita semua bahwa membaca adalah budaya untuk membangun bangsa. Sekian, semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s