Short Story

Aku Menyebutnya Ayah

Laki – laki itu terduduk di kursi taman sembari menunggu seseorang datang menghampirinya. Ia melihat ke jam yang telah melingkar di tangan kanannya. Jarumnya telah menunjukkan pukul 15.00. Tepat saat dimana ia membuat janji dengan gadis itu. Tak lama kemudian gadis yang ia tunggu datang mendekatinya. Senyumnya terpasang manis di bibir. Ada rasa senang mengalir dalam dada laki – laki itu.

“Hai.”, seru gadis itu. “Nggak telat kan?”

“Aku juga baru saja datang.”, balas laki – laki itu.

“Yaudah. Yuk berangkat.”

“Tunggu. Kita mau kemana?”

“Pulang”, ujar gadis itu dengan girang.

“Pulang? Maksudnya?”, tanya laki – laki itu bingung.

“Ya pulang. Ke rumah…”, gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ia mulai ragu atas apa yang ingin ia katakan. Sedangkan laki – laki dihadapannya ini tampak semakin bingung. “Ke rumah Om Arman.”

Laki – laki yang bernama Ardi itu tiba – tiba terdiam. Tak ada lagi senyuman. Tak ada lagi keceriaan. Rahangnya mengeras. Matanya menatap lurus pada gadis didepannya itu.

“Aku sudah bilang berkali – kali… Rumahku bukan disana.”, ujar Ardi dingin.

“Mau sampai kapan kamu seperti ini? Bagaimanapun dia ayah kamu, Di. Jujur, dia butuh kamu sekarang.”

“Sampai kapanpun dia nggak butuh anak sampah seperti aku.”, ucap Ardi yang matanya sudah tampak memerah. Laki – laki itu memang tidak pandai memendam emosi.

Ardi pergi begitu saja seusai bicara. Lintang hanya mampu menghela napas. Ardi terus berjalan lurus tanpa menengok ke belakang. Meninggalkan gadis itu sendiri. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Otaknya kembali memutar memori tentang seseorang yang tadi disebutkan oleh Lintang. Pikirannya terbang ke beberapa tahun lalu. Saat ia masih kanak – kanak. Saat dimana ia seharusnya merasa seperti raja.

***

Pria setengah baya memasuki pekarangan rumah dengan langkah gontai. Pria itu membuka pintu rumah dengan kasar. Dilihatnya seorang anak yang sedang terduduk di kursi tamu dengan tangan yang menggenggam gitar. Matanya memerah melihat sosok yang dilihatnya. Sebenarnya bukan anak laki – laki itu yang membuat wajahnya merah padam, namun tertuju pada gitar yang sedang dipegang anak itu. Ia segera merebut gitar pada tangan anaknya dan membantingnya ke lantai.

“Sudah berapa kali ayah bilang. Berhenti bermain musik! Fokus sekolah. Ayah mencari uang buat kamu sekolah! Bukan beli gitar sampah seperti itu!”, teriak pria itu yang membuat anak berumur 10 tahun itu meneteskan air mata. Anak itu hanya menunduk. Tak berani menatap ayahnya yang sedang kalap.

Pria itu menarik tangan mungil anaknya. Menyeretnya kedalam kamar. Kemudian ia menarik sabuk yang dikenakannya. Ia memukul punggung anak itu dengan sabuknya. Menggoreskan luka yang teramat perih. Anak itu hanya menangis. Sesekali berteriak meminta belas kasihan dari ayahnya. Namun pria itu tak kunjung sadar. Setelah selesai menyalurkan segala kekecewaannya, pria itu pergi. Meninggalkan anaknya sendiri di dalam kamar. Terdengar bunyi hantaman pintu depan. Ya pria itu pergi keluar rumah. Entah kemana. Sedangkan anak kecil itu menangis semakin keras. Tidak tahu harus melakukan apalagi. Dan anak kecil itu adalah Ardi. Ya, Ardi kecil.

***

Pagi ini begitu sepi. Ardi membuka matanya. Perih di tubuhnya masih begitu terasa. Ia keluar dari kamar. Melihat sekeliling rumah yang sepi. Ia melihat jam yang tertanggal di dinding. Pukul 08.00. Sudah terlalu terlambat untuk pergi ke sekolah. Dengan itu ia menyadari sesuatu. Ayahnya semalaman tidak pulang.

Ia merasakan perubahan dalam hidupnya sejak ibunya meninggal 1 tahun yang lalu. Sudah 1 tahun tubuhnya tergores benda – benda yang membuatnya merintih kesakitan. Tapi bukan hanya tubuhnya. Hatinya jauh lebih terluka. Sejak kematian sang ibu, ayahnya sering sekali mengamuk di rumah. Emosinya sama sekali tidak terkontrol. Seringkali pulang dengan membawa wanita dan sebotol bir. Sering juga pulang dengan penuh kemarahan. Itu tandanya ia sedang kalah judi. Itulah yang membuat anak sekecil dia mulai membenci hidupnya sendiri. Karena ia memang sendiri sekarang. Benar – benar sendiri.

Ia memungut gitarnya yang semalam dibanting oleh ayahnya. Syukur, gitar itu masih bisa dipetik. Ia memetikkan gitar itu seraya melantunkan sebuah lagu. Lagu yang membuatnya mengingat sang ibu. Ia rindu hari itu. Ia rindu belaian tangan ibu diatas rambutnya. Terdengar suara seseorang sedang berjalan masuk ke rumahnya. Ardi mengintip melalui jendela. Ayahnya. Pria itu datang. Ia segera berlari ke kamarnya. Menyembunyikan gitar pada lemari baju. Karena itulah satu – satunya tempat yang sepertinya tidak pernah diakses sang ayah.

Arman masuk kedalam rumah. Namun ia tidak sendiri. Wanita. Ia datang kembali dengan merangkul seorang wanita. Ardi melihat dua manusia yang sedang bermesraan itu dari balik pintu kamarnya. Ia tidak mengenali wanita itu. Seketika matanya bertemu dengan tatapan sang ayah. Pria itu terdiam sesaat. Kemudian ia menghampiri anaknya. Ia menarik telinga Ardi dengan kasar masuk kembali kedalam kamar. Membuatnya terduduk di kursi meja belajarnya.

“Ngapain kamu tadi, hah?”, bentak Arman. Ardi hanya mampu terdiam. “Ayah bilang belajar, ya belajar!”

“Dia… Siapa?”, tanya Ardi dengan nada takut yang begitu kentara.

“Bukan urusan kamu!”. Sebanyak dan sesering apapun Ardi bertanya siapa wanita itu tetap saja hasilnya akan nihil. Arman meninggalkan anak kecil itu di dalam kamarnya.

***

Ardi terus berkutat dengan pekerjaannya di balik meja kerja. Sesaat kemudian ada seseorang masuk kedalam ruang kerjanya. Lintang. Gadis yang dua hari lalu ditemuinya di taman. Gadis itu membawa sebuah bungkusan. Kemudian meletakkannya di atas meja kerja Ardi.

“Masih marah sama aku?”, tanya Lintang yang tak segera mendapat perhatian Ardi.

“Aku sibuk.”, jawab Ardi singkat.

“Aku lihat resto kamu masih sepi. Lagipula makan siang masih lama.”

“Aku Manager disini. Bukan pelayan. Jadi nggak ada hubungannya sibukku dengan ramainya resto.”

“Oke, oke.. Udah dong marahannya. Dua hari kamu nggak ngabarin aku.”

“Tang, aku mau bicara sama kamu.”, ucap Ardi setelah menutup laptopnya dan menyingkirkan beberapa berkas yang tadi menyita banyak tempat di mejanya.

“Ehmm.. Dari aku dateng kesini sampai detik ini.. Kita bukannya udah bicara?”

“Masalah kemarin…”, Ardi sedikit kikuk mengatakannya. Ia sebenarnya tidak ingin membahas ini lagi. Tapi jika ia tidak segera menegasinya. Lintang akan terus membahasnya. “Sekeras apapun kamu rayu aku. Semua nggak akan berubah.”

Gadis itu menghembuskan napas dengan keras. Menggerak – gerakkan jemarinya diatas meja. Seakan sedang mencari kata yang pas untuk berbicara dengan lelaki keras kepala yang sedang ada dihadapannya saat ini.

“Ardi, sejauh apapun kamu lari, kamu akan tetap bertemu dengan kenyataan itu. Kamu nggak bisa pungkiri satu hal ini.”, ujar Lintang membuat Ardi terdiam sesaat. Kemudian ia mampu melihat laki – laki itu mengepalkan tangannya. Dan jelas, ada amarah disana.

“Sejak hari itu. Dia bukan siapa – siapa aku lagi.”, ucap Ardi sama dinginnya saat kemarin di taman.

“Dia tetap siapa – siapa kamu. Kamu ada di posisi ini, itu juga karena dia.”

“Karena dia? Dia melakukan apa, hah? Dia perlakukan aku seperti binatang. Dan denger baik – baik. Aku ada di posisi ini dengan jerih payahku sendiri. Aku berdiri dengan kakiku sendiri. Dia nggak ikut andil apapun. Dan kalaupun aku harus mengucapkan terimakasih, itu seharusnya kukatakan padamu dan orangtuamu. Kamu seharusnya sudah tahu hal ini.”

Dan benar. Gadis itu tahu segalanya. Lintang memang teman dekat Ardi kecil. Ia tahu betul seluk beluk kehidupan Ardi sejak kecil. Lintang juga yang dengan tulus mengulurkan tangannya untuk Ardi.

Ardi mengusap wajahnya keras sebagai aksi meminimalisir amarahnya. Tujuhbelas tahun ia mencoba melupakan segalanya. Ia mencoba memendam segala kekecewaannya dalam – dalam. Menutup semua luka yang telah tergores. Hingga sekarang ketika gadis itu mengorek lukanya kembali. Gadis yang paling ia percaya daridulu. Gadis yang telah tumbuh bersamanya.

“Tang, sejak kejadian malam itu aku nggak bisa percaya siapapun lagi. Aku nggak tahu pada siapa sakit itu bisa aku bagi. Sampai disaat kamu datang. Cuma kamu yang bisa aku percaya untuk tahu siapa aku sebenarnya. Yang tahu bahwa hidupku tidak semudah yang mereka lihat. Jadi tolong, jangan buat aku nggak percaya kamu lagi.”, ujar Ardi dengan pasti. Lintang tertegun mendengar apa yang laki – laki dihadapannya itu katakan.

***

Rumah itu kembali terlihat sepi. Tidak ada suara ayah yang sedang bersenda gurau dengan sang anak. Ataupun sebaliknya. Anak itu sendirian. Ia terduduk di taman belakang rumahnya sendirian. Disampingnya telah berdiri sebuah gitar yang sangat ingin dipetik. Anak itu senang karena setidaknya sekarang ia bisa bermain – main sebentar dengan gitarnya. Ardi mengambil gitar yang ada disampingnya itu. Ia mulai memetiknya perlahan. Merasakan hidupnya kembali tenang saat nada – nada petikan dari gitar itu mulai terdengar.

Selang beberapa saat ia memainkan sebuah musik, ia merasakan ada seseorang menepuk pundaknya. Sontak, Ardi menengok ke belakang. Ia melihat sosok tinggi dan berbadan tegap menatap tajam kearahnya. Ya, itu Arman, ayah Ardi. Pria itu dengan serta merta merebut gitar yang dipegang anaknya. Namun tidak seperti biasa. Ardi tak mau melepas gitarnya. Arman tidak kehilangan akal. Ia menampar anak laki – laki satu – satunya itu hingga tersungkur diantara hamparan rerumput taman. Arman kemudian mengambil gitar saat anak itu lengah.

“Ayah sudah bilang berkali – kali. Jangan pernah main musik lagi!”, Arman membawa gitar tersebut ke sudut taman. Disana terdapat sebuah tong besi yang sudah berkarat dan juga asap yang mengepul dari dalamnya. Arman memasukkan benda itu kedalam tong. Oh tidak, pria itu membakar gitarnya.

“Ayah!!”, teriak Ardi seraya merangkak berdiri ketika melihat apa yang ayahnya lakukan. “Jangan dibakar Ayah! Ardi mau gitar itu.”, ujar Ardi memohon pada ayahnya. Namun bak nasi telah menjadi bubur, tak ada yang bisa diperbuat. Gitar itu benar – benar telah terbakar. Seperti tak terjadi apapun, Arman masuk kedalam rumah dengan santai. Meninggalkan anak laki – lakinya yang menangis dengan begitu keras.

***

Setelah sedikit tenang, Ardi bangkit dan berniat menemui ayahnya untuk meminta alasan atas apa yang telah dilakukannya. Sesampainya di ruang tamu, ia melihat ayahnya dengan seorang wanita. Bukan wanita yang diajaknya pulang kemarin. Tapi wanita lain lagi. Tangannya memegang sebuah botol bir. Keadaan sekitarnya pun berantakan. Namun Ardi tetap kukuh untuk bicara dengan ayahnya. Tidak ada lagi ketakutan.

“AYAH”, teriak anak itu yang menghasilkan tatapan kurang enak dari ayahnya. Pria itu bangkit dan menghampiri Ardi. Tanpa basa – basi ia menarik tangan Ardi. Namun anak laki – laki itu menepis tangan ayahnya. “Ayah jahat! Kenapa gitar Ardi dibakar?”

Bukan jawaban yang Ardi terima tapi malah tamparan di pipi kanannya. Sesaat kemudian pipi kirinya mengalami nasib yang sama. Arman kemudian menarik tangan Ardi dan membawa anak itu kedalam kamar. Mendorongnya hingga terduduk di lantai. Pria itu mengambil sapu dari dapur. Tanpa pikir panjang ia memukul anaknya dengan sapu tersebut. Di tangan, di kaki, hingga sekujur tubuhnya memerah. Setelah melakukan hal tersebut, Arman kembali ke ruang tamu. Menemui wanita itu lagi. Wanita yang sama sekali tidak dikenali oleh Ardi.

Dengan sisa tenaga yang ada, anak itu kembali berdiri. Ia mengambil botol kaca yang ada di dapur. Lalu ia berjalan ke arah ruang tamu. Bermaksud menemui ayahnya. Arman yang mendapati anak tersebut mengganggunya kembali, bangkit dan mendekati anak itu. Ia kembali menampar pipi anak itu. Tapi Ardi tak sedikitpun goyah. Tangan kirinya mulai mengepal. Dan tangan kanannya memeras ujung botol semakin keras. Tanpa disangka Ardi memecahkan botol tersebut dan menggunakan sebagian pecahannya untuk menggores tangan ayahnya. Entah mencapai nadinya atau tidak. Ardi segera melarikan diri setelah melakukan hal tersebut. Sedangkan pria itu tersungkur di lantai dengan darah bercucuran dari tangannya.

Ardi tak tahu harus berlari kemana, harus berlindung dimana. Malam begitu sunyi. Ia terduduk di trotoar jalan. Air matanya kembali menetes. Ia tak mungkin kembali ke rumah. Ia benci rumah. Ia benci ayahnya. Ia benci hidupnya. Jika ia ingin meminta, ia ingin terlahir kembali di keluarga yang hangat. Benar – benar sekumpulan orang yang bisa disebutnya keluarga.

Beberapa lama kemudian gadis itu datang bersama keluarganya. Mereka dengan senang hati mengulurkan tangannya untuk Ardi. Setelah kejadian itu, Ardi hidup bersama keluarga Lintang. Hingga Ardi bisa menjadi seseorang sekarang. Setelah bekerja, ia memutuskan untuk hidup mandiri. Tidak bergantung lagi pada keluarga Lintang. Namun kini ia menjalin hubungan dengan gadis itu. Waktu yang membuatnya tertarik dengan gadis itu. Dan juga karena gadis itu merupakan satu – satunya orang yang bisa ia percaya. Satu – satunya orang yang bisa ia bagi rasa sakit itu.

***

Ardi duduk di balik meja kerjanya. Matanya terfokus pada koran yang sedang ia baca pagi ini sebelum seseorang datang membuyarkan konsentrasinya. Gadis itu masuk ke ruang Ardi dengan wajah gembira seperti biasanya.

“Ngapain bawa gitar?”, tanya Ardi sinis ketika melihat gadis itu datang dengan gitar di tangannya.

“Duduk sini dulu deh.”, ujar Lintang sambil menepuk sofa disampingnya. Tanda menyuruh Ardi untuk duduk disampingnya.

Ardi hanya menurut. Ia melipat koran yang dipegangnya kemudian bejalan ke arah gadis itu dan duduk tepat di sampingnya.

“Aku pengen kamu kamu nyanyi satu lagu aja. Dulu kan jago nyanyi.”, ucap Lintang santai yang hanya mendapat tatapan tajam dari Ardi. “Ayolah, Di.”

“Aku nggak main gitar.”, sambut Ardi datar.

“Beneran nggak mau? Satu lagu aja.”, Ardi hanya menggelengkan kepalanya. “Yaudah kalau gitu kita pulang ya. Ke rumah Om Arman.”, kini Lintang mengucapkan nama itu tanpa ragu – ragu lagi.

“Tang, jangan mulai lagi.”

“Aku akan terus mulai selama kamu nggak mengakhirinya. Dan selama ini belum berakhir selama itu pula kita nggak bisa menikah.”

“Kenapa? Orang tua kamu sudah merestui kita.”

“Karena Ayah kamu. Kapan kamu ngenalin aku ke dia?”

“Aku nggak punya ayah.”

“Udah dong, Di. Tujuhbelas tahun dendam itu ada dalam hati kamu. Gimanapun dia ayah kamu.”

“SUDAH AKU BILANG. AKU NGGAK PUNYA AYAH.”

Lintang menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa lalu mengusap wajahnya dengan gusar. Tidak tahu harus bagaimana lagi berbicara dengan laki – laki yang sangat keras kepala disampingnya ini.

“Aku nggak tahu lagi harus rayu kamu seperti apa. Aku udah nggak ada cara lagi. Dua hari lalu aku kerumah kamu. Aku ketemu sama dia. Aku cerita semuanya. Tentang kamu, aku, dan kita. Alasan dia melarang kamu main musik itu karena dulu dia juga pemusik. Dia cerita sebelum kamu lahir ia adalah musisi. Sampai kemudian dia beralih ke bisnis. Tapi setelah ibu kamu meninggal bisnisnya hancur. Dia ingin kembali ke dunia musik. Dia membuat lagu. Tapi lagu itu dicuri dan dia tidak mendapat royalti apapun. Dan semua berakhir pada judi, wanita, dan tentunya bir. Dia hanya tidak ingin kamu dikhianati sama seperti dia. Kamu pernah bilang dia tidak ikut andil apa – apa dalam hidupmu, itu salah, Di. Jiwa musisi dan bussiness man itu dari dia. Orang yang sebenarnya membantumu secara tidak langsung. Dia juga cerita semua kejadian setelah kamu pergi…” tanpa terasa gadis itu meneteskan air mata. Ardi hanya terdiam menatap meja yang berada tak jauh di depannya.

“Mulai dari saat dia nyaris mati karena mau menggores nadinya dengan botol kaca sampai kehidupan dia selepas dari penjara karena ada yang melaporkan kasus kekerasanmu ke polisi. Dia juga sama menderitanya seperti kamu. Dia cuma minta satu, Di. Dia minta supaya aku mintain maaf kamu buat dia. Semua udah berubah. Semuanya termasuk dia. Nggak ada lagi alasan untuk kamu takut pulang. Dia benar – benar udah berubah.”, gadis itu mampu melihat Ardi mulai meneteskan air mata. Kemudian ia menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Menghindari gadis itu melihat airmatanya.

Lintang menarik Ardi kedalam pelukannya. Seketika Ardi menangis dalam pelukan gadis itu. Ia menenggelamkan wajahnya ke pundak Lintang agar suara tangisannya tidak begitu kentara. Kini ia mengeluarkan segalanya. Kekecewaan yang ia pendam selama 17 tahun. Kebencian yang ia simpan dalam – dalam. Amarah yang begitu ingin ia luapkan. Laki – laki itu hanya mampu menangis sekarang.

Lintang mengusap puncak rambut Ardi dengan lembut. Ia tahu Ardi lebih dari siapapun. Semua orang melihatnya sebagai sosok pria tampan dan sukses dengan bisnisnya. Tapi berbeda dengan Lintang. Gadis itu melihat Ardi adalah sosok anak kecil yang lemah. Yang butuh kasih sayang. Anak kecil yang ia temukan di trotoar dengan wajah ketakutan. Itulah Ardi yang tidak setangguh orang lain lihat.

“Pulang ya, Di.”, ujar Lintang setelah merasa Ardi tidak se-terguncang tadi. Laki – laki itu tidak menjawab. Tapi Lintang mampu merasakan bahwa Ardi mengangguk di pelukannya.

***

Ardi menginjakkan kakinya kembali di rumah itu. Rumah yang ia tinggalkan 17 tahun yang lalu. Tanpa terasa ingatan masa kecilnya kembali lagi. Saat ia bahagia bersama ibunya. Dan juga masa kelamnya bersama sang ayah. Ardi tiba – tiba berhenti. Lalu ia mundur selangkah. Seakan ragu atas keputusannya untuk kembali ke rumah ini. Lintang yang tahu perasaan pria itu, kemudian menggenggam tangan Ardi dengan erat. Memberitahunya bahwa ini bukan pilihan yang salah. Memberitahunya bahwa ini yang seharusnya ia lakukan dari dulu. Lintang tersenyum pada Ardi. Semakin meyakinkan pria itu.

Ardi membuka pintu rumahnya. Sepi. Tak ada suara. Ia melihat sekeliling rumah. Tak banyak yang berubah semenjak ia pergi. Bahkan fotonya bersama ayah dan ibunya pun masih terpasang rapi di tembok. Ia menyusuri setiap sudut ruang rumahnya.

“Om Arman ada di taman belakang, Di.”, kata Lintang setelah menghampiri Ardi. Laki – laki itu tetap tidak bergerak dari tempatnya. Lintang menggenggam tangan Ardi. “Nggak usah takut. Ada aku sekarang. Kamu nggak sendirian.”

Akhirnya Ardi pergi ke taman belakang rumahnya. Ia melihat sosok seseorang sedang duduk di bangku taman. Bangku yang dulu selalu ia gunakan untuk bersembunyi ketika ia ingin bermain musik.

“A..”, entah mengapa untuk menyebut satu kata itu Ardi merasa berat. Ia menoleh ke Lintang. Mendapati gadis itu tersenyum. Membuatnya yakin untuk melakukan hal itu. “Ayah..”

Pria yang sedang duduk itupun sontak bangkit dan menoleh ke arah Ardi. Ada raut kaget dalam wajah itu. Ardi pun belum percaya bahwa momen ini akan terjadi. Momen dimana ia bisa menemui ayahnya lagi. Momen dimana ia bisa memanggil ‘ayah’. Ardi melihat banyak yang berubah dari wajah pria itu. Rambutnya sebagian telah memutih. Sudut matanya menandakan ada keriput disana. Pria itu tersenyum kepada Ardi. Senyum yang begitu ia rindukan. Senyum yang membuatnya merasa ia benar – benar memiliki ayah.

Pria itu menghambur menuju Ardi. Bukan pelukan yang dilakukannya. Ia malah terduduk di depan Ardi. Bersujud pada laki – laki itu. Tampaknya ia juga menangis disana. Sesaat kemudian Ardi sadar apa yang dilakukan ayahnya. Kemudian ia menarik ayahnya berdiri. Ia memeluk ayahnya.

“Maafkan Ayah.”

“Ardi yang seharusnya minta maaf. Ardi nggak tahu kalau ayah yang sebenarnya lebih menderita.”

“Nggak. Ayah yang salah sama kamu, Nak. Maafkan Ayah.”

Kini semuanya telah selesai. Tidak ada lagi amarah, penderitaan, dan dendam. Semuanya telah berakhir bahagia. Ardi menemukan keluarganya kembali setelah 17 tahun ia menutup mata hatinya. Kini ayah bukanlah imajinasi yang hanya ada dalam pikirannya tapi ayah adalah sosok nyata yang bisa ia lihat untuk setiap harinya. Ia tidak lagi membenci hidupnya. Karena hidupnya telah kembali. Kebahagiaan yang sempat terenggut telah didapatnya lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s